Fokus Semarang | Banjir rob yang melanda Desa Tunggulsari, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, kini menjadi musibah yang tak berkesudahan. Kondisi ini telah berlangsung selama dua tahun terakhir akibat hancurnya ekosistem mangrove di kawasan pesisir serta jebolnya tanggul sepanjang 110 meter.
Saat ini, banjir rob tidak hanya merendam puluhan rumah warga, tetapi juga menenggelamkan ratusan hektare tambak. Kepala Desa Tunggulsari, Setyo Wahyudi, menjelaskan bahwa banjir rob telah merendam seluruh hunian di wilayah RT 05.
Setidaknya ada 36 rumah yang terdampak langsung, sehingga mengganggu aktivitas harian 96 warga setempat. “Banjir rob ini sudah terjadi selama dua tahun terakhir. Kondisinya sangat parah, setiap hari rumah mereka terendam air,” ujar Setyo.
Selain merusak permukiman, bencana ini perlahan mematikan mata pencarian mayoritas warga yang 90 persennya berprofesi sebagai petambak. Dari total 160 hektare lahan budi daya ikan nila di desa tersebut, separuhnya kini tidak lagi produktif karena terendam air laut.
“Dampak lain yang pasti adalah rusaknya lahan-lahan produktif petani tambak ikan nila. Dari total 160 hektare itu, 80 hektare sudah rata dengan air,” terangnya.
Akibatnya, para petambak harus menanggung kerugian materiil yang sangat besar. Setyo memprediksi total kerugian kumulatif para petani tambak pada siklus pasang musim ini saja sudah menembus angka lebih dari Rp2 miliar. Jumlah tersebut belum termasuk hitungan kerusakan aset lahan mereka.
Pihak desa bersama warga sebenarnya tidak tinggal diam. Pada tahun 2025 lalu, warga sempat bergotong-royong membangun tanggul secara swadaya. Namun, kuatnya hantaman ombak membuat benteng darurat tersebut kembali jebol pada Januari 2026.
“Tahun 2025 kami telah melakukan penanggulan secara swadaya. Namun pada bulan Januari lalu sudah kembali jebol dan hilang semua. Dari pemerintah belum ada sama sekali penanganan untuk tanggul tersebut,” imbuhnya.
Pihak Pemerintah Desa Tunggulsari sangat berharap pemerintah pusat maupun daerah segera turun tangan untuk memperbaiki tanggul yang jebol. Mengingat biaya revitalisasi infrastruktur tersebut sangat besar dan di luar kapasitas dana desa.
Setyo mengkhawatirkan, jika penanganan lambat dilakukan, Desa Tunggulsari terancam hilang dari peta karena tenggelam oleh air laut.
“Kalau ini tidak ada penanganan lebih lanjut dari pemerintah, bukan hanya menimbulkan kerugian di sektor budi daya ikan, tetapi ada potensi hilangnya permukiman di wilayah desa kami,” pungkasnya.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.


