Fokus Semarang | Korannya, revolusi adalah gerakan perubahan besar-besaran yang seketika dan mendasar atas politik dan tata kelola negara. Namun, jika kita melihat sejarah Indonesia, revolusi atau gerakan perubahan itu telah terjadi lebih dari sekali, tetapi tidak sepenuhnya rapi.
Sejak tahun 1960, kondisi ekonomi masyarakat Indonesia hancur, dengan inflasi mencapai 594% dan harga-harga kebutuhan pokok melambung tinggi. Pendapatan rakyat hanya cukup untuk hidup tiga hari, dan keuangan negara digunakan untuk mengatasi keamanan dan perang.
Dalam tahun yang sama, meletus pula gerakan separatisme DI/TII di bawah pimpinan Karto Suwiryo yang akan mendirikan negara Islam. Rakyat yang lapar di pelopori KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa) dan elemen masyarakat lain melakukan demonstrasi besar-besaran dengan mengusung jargon perjuangan Tritura (Tri Tuntutan Rakyat).
Tanggal 10 Januari 1966 adalah momen berdirinya Tritura itu, gerakan mahasiswa yang secara terselubung didukung tentara yang ingin menaikkan Mayjen Suharto menjadi presiden. Melalui Surat Perintah 11 Maret, kekuasaan itu berhasil diperoleh, dan Suharto diukuhkan sebagai presiden Republik Indonesia melalui TAP MPRS NO.XLIV/MPRS/1968.
Awalnya, pemerintah odde baru berhasil mengendalikan ekonomi melalui pembangunan semesta berencana dengan tahapan lima tahunan (Repelita). Namun, pada tahun 1997, terjadi resesi atau krisis ekonomi yang melanda beberapa negara di Asia, termasuk Indonesia. Kondisi itu tidak terkendali dan terus merusak tatanan kehidupan sehari-hari.
Selain dari itu, secara politik, Suharto melakukan tindakan otoriter, lawan-lawan politik ditangkap, di tahan tanpa peradilan, kebebasan Pers dibatasi, dan banyak surat kabar dibredel. Roda ekonomi di kuasai kroni-kroni dan keluarga istana, muncul KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme). Rakyat yang melarat marah dan tidak bisa mengendalikan diri.
Di lingkungan Pemerintahan Suharto makin terdesak, ada 14 Menteri mengundur diri. Empat orang yang memiliki menjadi tokoh sentral Gerakan perubahan ini adalah Abdurahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Amien Rais, dan Sultan Hamengku Buwono.
Puncak demo sekitar seratus ribu orang menaiki gedung utama DPR Senayan. Suharto yang sedang berkunjung ke Mesir cepat-cepat pulang dan besok harinya tanggal 21 Mei 1998 menyatakan pengunduran diri. BJ Habibie yang menggantikan mewarnai permulaan pemerintahan era reformasi.
Sampai kini orde reformasi itu sudah berusia 37 tahun, telah ada 6 Presiden yang tampil, tetapi kedamaian sebagai kondisi lanjutan yang di-cita-citakan sebuah revolusi masih jauh bumi dari langit. Kesejahteraan masyarakat belum terasa, hanya kebebasan berbicara dan bebas memaki orang.
Jadi, apa yang dapat kita pelajari dari sejarah revolusi Indonesia? Lakukan semua secara arif dan bijak dan dengan penataan yang rapi. Jangan seperti keledai, terperosok dua kali pada lobang yang sama. Oleh karena itu, jangan jadikan rakyat sebagai marmot percobaan.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.


