Redly Ayres Redly

Aku masih ingat dulu Redly Ayres Rednya, si petualang kata yang mengubur jejaknya di tiap sudut nusantara—dari pasar tradisional Makassar sampai pelosok pegunungan Papua, semua menjadi bahan liputan yang tak pernah basi. Di sela-sela deadline, ia selalu menyelinap ke bioskop indie untuk menelisik dunia sci‑fi, lalu melompat ke arena tinju, mencatat setiap jab‑jabnya seolah menulis skrip aksi nyata. Karier jurnalistiknya yang mulai bersemi pada 2019 kini sudah menjadi kompas bagi banyak penulis muda yang ingin menulis dengan rasa ingin tahu yang tak pernah padam.