Fokus Semarang| Petugas Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta melaksanakan operasi penangkapan ikan sapu-sapu secara serentak pada 17 April 2026. Di wilayah Jakarta Timur, tim lapangan berhasil mengamankan total berat mencapai 763 kilogram, setara dengan ribuan ekor ikan yang dipanen dari sepuluh titik penangkapan.
Operasi ini merupakan bagian dari tahapan jangka pendek yang direncanakan KPKP untuk mengendalikan populasi ikan sapu-sapu yang telah mendominasi lebih dari 60 % biota perairan kota. Kepala Dinas, Hasudungan A. Sidabalok menegaskan seluruh hasil tangkapan langsung dikubur di lokasi yang diawasi ketat, sehingga tidak ada peluang penyelewengan atau penjualan kembali kepada pedagang.
Data Penangkapan di Jakarta Timur
| Lokasi | Jumlah Ekor | Berat (kg) |
|---|---|---|
| Pintu Air Outlet Setu Babakan | 4.128 | 763 |
Selain Jakarta Timur, operasi serentak juga mencakup wilayah Jakarta Selatan, Pusat, Utara, dan Barat. Total keseluruhan yang berhasil ditangkap mencapai hampir 7 ton atau 68.880 ekor ikan sapu-sapu. Jakarta Selatan mencatat hasil tertinggi dengan 5,3 ton, diikuti oleh wilayah lain dengan jumlah lebih kecil namun signifikan.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyoroti bahaya konsumsi ikan sapu-sapu karena kandungan residu logam berat yang melebihi ambang aman (0,3 mg/kg). Ia menambahkan bahwa ikan ini tidak hanya mengancam kesehatan manusia, tetapi juga merusak ekosistem sungai melalui aktivitas menggali dasar sungai, mengurangi kualitas air, dan memperebutkan makanan ikan lokal.
Strategi pengendalian yang dijalankan KPKP terbagi menjadi tiga fase. Fase jangka pendek menitikberatkan pada penangkapan massal dan penyembelihan langsung. Fase jangka menengah akan mengintegrasikan pembersihan sungai secara rutin, sedangkan fase jangka panjang melibatkan kolaborasi dengan akademisi untuk mengembangkan teknologi biologi atau mekanik yang dapat menekan pertumbuhan ikan sapu-sapu secara berkelanjutan.
Upaya ini mendapat dukungan luas dari komunitas nelayan, LSM lingkungan, dan akademisi. Banyak pihak menekankan pentingnya edukasi masyarakat agar tidak melepaskan ikan hias ke sungai, yang menjadi salah satu jalur penyebaran spesies invasif ini. Pemerintah juga mengajak warga untuk melaporkan temuan ikan sapu-sapu melalui aplikasi resmi, sehingga respons penangkapan dapat lebih cepat dan terkoordinasi.
Secara keseluruhan, penangkapan 763 kg ikan sapu-sapu di Jakarta Timur menandai langkah konkret dalam rangka menyeimbangkan ekosistem perairan perkotaan. Diharapkan hasil operasi ini dapat menurunkan persentase dominasi spesies invasif, melindungi keanekaragaman ikan lokal, serta meningkatkan kualitas air bagi masyarakat kota.
Ke depan, KPKP berkomitmen melanjutkan siklus penangkapan dan pemusnahan secara berkala, sekaligus mengoptimalkan riset ilmiah untuk solusi jangka panjang yang lebih efektif.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.


