Fokus Semarang | Data hasil penelusuran situs resmi SNPMB sejak 2021 hingga 2025 mengungkap tren menonjol: siswa Sumatera secara konsisten menjadi peminat terbesar untuk lima perguruan tinggi teratas di Indonesia. Lima kampus yang masuk dalam peringkat QS World University Rankings 2025—Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Airlangga (Unair), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Institut Pertanian Bogor (IPB)—menjadi tujuan utama para pelajar dari luar Jawa, terutama yang berasal dari Sumatera Utara.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Filosofi budaya Batak yang menekankan nilai pendidikan, seperti ungkapan “Anakkon Hi Do Hamoraon Di Au” (anak adalah harta paling berharga), menjadi salah satu faktor pendorong kuat. Pengamat sosial Dr. Agus Suriadi dari Universitas Sumatera Utara menegaskan bahwa meski kondisi ekonomi masih menantang, keluarga Batak tetap berupaya keras menyediakan biaya dan dukungan moral bagi anak‑anaknya untuk menembus pendidikan tinggi.

Contoh nyata semangat tersebut dapat dilihat pada dua siswa SMA Negeri 1 Medan. Naufal Azmy, 18 tahun, menargetkan Sekolah Bisnis Manajemen di ITB. Ia menyatakan tekadnya sudah bulat dan mendapat dukungan penuh dari orang tuanya, termasuk perencanaan keuangan untuk biaya hidup di Bandung. Sementara Muhammad Faathir Rasya, 17 tahun, berambisi masuk program psikologi di Universitas Indonesia. Kedua siswa ini menegaskan bahwa dukungan orang tua bukan hanya moral, melainkan juga bantuan finansial yang terstruktur.

Statistik terbaru menunjukkan bahwa pada tahun 2025, asal Sumatera Utara mencakup 18,99% dari total pendaftar nasional pada lima kampus teratas—angka tertinggi dibanding provinsi lain di luar Pulau Jawa. Pertumbuhan pendaftar asal Sumatera selama lima tahun terakhir mencapai 144,75%, jauh melampaui rata‑rata nasional yang hanya 104,5%. Dari sepuluh provinsi di Sumatera, Sumatera Utara konsisten memimpin dalam hal jumlah peminat.

Berikut rincian prodi dan kampus favorit menurut data SNPMB:

  • Prodi paling diminati: Akuntansi (789 peminat pada 2025), diikuti oleh Hukum, Kedokteran, serta Fakultas Perminyakan dan Pertambangan di ITB.
  • Kampus paling dipilih: UI dengan 3.715 peminat asal Sumatera Utara, diikuti UGM (3.450 peminat), ITB, Unair, dan IPB.

Alasan utama siswa Sumatera memilih kampus di Pulau Jawa meliputi harapan mendapatkan ilmu yang lebih mendalam, jaringan profesional yang luas, serta peluang kerja yang lebih baik setelah lulus. Ganes Retno, Direktur Pendidikan dan Pengajaran UGM, menambahkan bahwa faktor biaya hidup di Yogyakarta yang relatif terjangkau serta atmosfer akademik yang ramah turut meningkatkan daya tarik bagi pelajar luar Jawa.

Sementara itu, data serupa dari kawasan Indonesia Timur (KIT) menunjukkan pola yang berlawanan. Meskipun terdapat peningkatan pendaftar di lima kampus top, provinsi‑provinsi seperti Sulawesi Barat, Papua Barat, dan Maluku mencatat angka pendaftar yang jauh lebih rendah dibandingkan Sumatera Utara. Pada 2025, Sulawesi Barat hanya menyumbang 259 peminat, sementara Sumatera Utara mencatat 14.042 peminat.

Para ahli menilai bahwa perbedaan ini tidak semata‑mata disebabkan oleh kurangnya aspirasi, melainkan oleh rendahnya partisipasi pendidikan tinggi secara umum di wilayah timur. Satriwan Salim, koordinator nasional P2G, menekankan perlunya intervensi kebijakan yang memperkuat akses pendidikan tinggi di daerah‑daerah terpencil, sehingga impian masuk PTN top menjadi lebih realistis.

Upaya pemerintah dan institusi pendidikan untuk menambah beasiswa, skema afirmasi daerah 3T, serta kerja sama dengan sektor swasta telah mulai memberikan efek positif. Namun, tantangan utama tetap pada kesiapan ekonomi keluarga dan persepsi tentang jarak serta biaya hidup di Pulau Jawa.

Kesimpulannya, fenomena dominasi siswa Sumatera dalam pendaftaran lima kampus teratas mencerminkan kombinasi budaya yang menghargai pendidikan, dukungan keluarga yang kuat, dan strategi perencanaan keuangan yang matang. Sementara wilayah Indonesia Timur masih menghadapi hambatan struktural, langkah‑langkah kebijakan yang menargetkan peningkatan partisipasi dan beasiswa diharapkan dapat menyeimbangkan peluang di masa depan.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.