Fokus Semarang – 18 April 2026 | Bandung, 17 April 2026 – Sebuah aksi keberanian berujung tragedi pada Rabu 16 April 2026 ketika satpam SMAN 1 Banjaran, Agus Sutisna (52), tewas setelah melompat ke Sungai Cibanjaran untuk menyelamatkan seorang siswi berusia 18 tahun yang hanyut terbawa arus deras. Peristiwa ini menggemparkan warga setempat dan menimbulkan keprihatinan luas atas pengorbanan seorang petugas keamanan demi keselamatan murid.
Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Bandung pada sore harinya menyebabkan debit air Sungai Cibanjaran naik tajam, hampir meluap hingga menggenangi permukiman di sekitar Kampung Girang Deket, Desa Banjaran. Pada saat itu, Agus Sutisna sedang menjalankan tugasnya di sekolah ketika ia mengirimkan video melalui aplikasi WhatsApp kepada kepala sekolah, Iwan Kurniawan, yang memperlihatkan ketinggian air yang mengancam. Iwan segera menengok lokasi dan melaporkan bahwa air sudah mulai naik signifikan.
Tak lama setelah itu, terdengar teriakan warga yang melaporkan seorang siswi berinisial GL (18 tahun) terjatuh dan hanyut terbawa arus. Iwan menyaksikan sekelompok anak dan warga berusaha menolong, namun arus sungai yang kuat membuat situasi semakin panik. “Saya melihat ada tiga, empat orang di sekitar, namun ternyata ada lima orang yang terlibat. Yang pertama adalah anak bernama Gina yang tinggal di seberang, terkena banjir,” ujar Iwan dalam pernyataannya.
Melihat kondisi kritis, Agus tidak tinggal diam. Ia berusaha mencari alat pelampung atau bahan pengikat, namun saat teman‑temannya masih mencari perlengkapan, Agus sudah melompat ke dalam air dengan tekad kuat untuk menyelamatkan GL. “Saya sempat melarangnya, ‘Jangan dulu, cari alat dulu,’ namun suara gemuruh sungai terlalu keras, dan dia tetap melompat,” kata Iwan menambahkan.
Setelah memasuki aliran, Agus berhasil mendekati korban dan berusaha meraih tubuhnya. Namun derasnya arus membuat keduanya terseret ke hilir. Upaya penyelamatan selanjutnya dilaksanakan oleh warga, petugas Polsek, Camat, serta tim gabungan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung yang dipimpin Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Diki Sudrajat.
Pencarian berlangsung sepanjang malam dan dilanjutkan keesokan paginya. Tim BPBD menelusuri aliran sungai hingga tiga kilometer dari titik kejadian. Pada pukul 10.26 WIB, jenazah Agus ditemukan di Kampung Badra, Desa Tarajusari, Kecamatan Banjaran, tergeletak telungkup di area tanggul, dengan ikat pinggangnya tersangkut pada struktur tanggul. “Arus masih deras, banyak bambu dan akar yang menghalangi, namun berkat kerja keras tim pencarian, kami berhasil menemukan jasad Pak Agus,” ujar Diki.
Penemuan jenazah menegaskan betapa berbahayanya kondisi sungai pada malam hari. Bambu raksasa dan akar pohon yang melintang di aliran menjadi penghalang utama, memperlambat proses pencarian dan menambah risiko bagi tim penyelamat. Selain itu, fakta tambahan yang terungkap kemudian menyebutkan bahwa sandal milik Agus masih berada di lokasi, belum dipindahkan oleh siapapun, menambah kesan dramatis pada tragedi ini.
Korban remaja, GL, belum berhasil ditemukan hingga laporan terakhir. Upaya pencarian terus berlanjut dengan melibatkan relawan dan aparat keamanan. Sekolah SMAN 1 Banjaran mengumumkan rencana untuk memperingati jasa Agus Sutisna dengan mengadakan upacara peringatan serta menyalakan lilin di halaman sekolah sebagai bentuk penghormatan.
Kasus ini menimbulkan perdebatan tentang prosedur penanganan bencana alam di wilayah sekolah. Kepala sekolah Iwan menegaskan pentingnya sistem peringatan dini serta penyediaan peralatan keselamatan, seperti pelampung dan tali penangkap, yang dapat mengurangi risiko serupa di masa depan. “Kami akan meningkatkan koordinasi dengan BPBD dan memperkuat sarana keselamatan di lingkungan sekolah,” ujarnya.
Pengorbanan Agus Sutisna menjadi contoh nyata nilai kepahlawanan dan dedikasi seorang petugas keamanan yang rela mempertaruhkan nyawanya demi melindungi murid. Masyarakat setempat, pihak sekolah, dan otoritas daerah menyesali kehilangan seorang warga yang begitu berani, sekaligus mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi kondisi cuaca ekstrem.
Tragedi ini sekaligus menjadi panggilan untuk memperkuat edukasi keselamatan di kalangan pelajar dan staf sekolah, serta meningkatkan kesadaran akan bahaya aliran sungai saat terjadi hujan lebat. Diharapkan, pelajaran dari kejadian ini dapat mencegah terulangnya insiden serupa dan menghormati warisan keberanian Pak Agus Sutisna.

