Fokus Semarang | Tak apa dolar tembus Rp20 ribu. Tak apa harga beras, cabai, dan minyak goreng terus merangkak naik. Tak apa koruptor menggasak uang rakyat hingga triliunan rupiah. Tak apa pelayanan publik masih membuat warga harus berputar-putar dari satu meja ke meja lain. Tak apa hukum terasa tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Yang penting Timnas menang.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Media sosial penuh dengan selebrasi. Jalanan dipenuhi konvoi. Grup WhatsApp mendadak kompak membahas skor pertandingan. Semua larut dalam euforia yang sama.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan itu. Sebagai bangsa yang terlalu sering disuguhi kabar buruk, kemenangan Timnas adalah kabar baik yang layak dirayakan.

Ketika Garuda terbang tinggi, jutaan orang ikut merasa bangga. Untuk sesaat kita melupakan perbedaan politik, agama, suku, dan pilihan hidup. Kita bersorak untuk bendera yang sama.

Sepakbola memang memiliki kekuatan yang tidak dimiliki banyak hal lain. Ia mampu menyatukan emosi jutaan orang dalam waktu bersamaan.

Tetapi justru karena kekuatan itulah, sepakbola sering kali menjadi ruang pelarian paling nyaman. Kita sibuk menghitung peluang lolos ke putaran berikutnya, sementara harga kebutuhan pokok terus bergerak naik.

Kita berdebat soal strategi pelatih, tetapi lupa bertanya mengapa korupsi masih terus berulang dengan pola yang hampir sama.

Kita menghafal statistik pemain, namun tidak lagi mengikuti perkembangan kasus-kasus besar yang menyangkut uang rakyat.

Ada pertanyaan menarik: apakah kita sedang menikmati sepakbola, atau sedang menggunakan sepakbola untuk melupakan kenyataan?

Hubungan antara sepakbola dan politik sebenarnya bukan cerita baru. Di banyak negara, sepakbola telah lama menjadi panggung yang sangat efektif untuk membangun citra dan memengaruhi opini publik.

Bagi politisi, tidak banyak arena yang mampu menghadirkan kedekatan dengan rakyat secepat stadion sepakbola. Karena itu, sejarah dunia dipenuhi contoh bagaimana kekuasaan memanfaatkan sepakbola.

Bahkan rivalitas legendaris antara Real Madrid dan Barcelona selama puluhan tahun tidak pernah sepenuhnya soal sepakbola. Di dalamnya ada sejarah, identitas, dan dinamika politik Spanyol yang panjang.

Indonesia tentu tidak berbeda. Setiap kali Timnas menang, suasana nasional berubah. Ruang publik dipenuhi optimisme. Percakapan bergeser. Perhatian masyarakat berpindah.

Persoalan lain adalah bahwa sepakbola hari ini bukan lagi sekadar olahraga. Olahraga ini sudah menjadi industri raksasa. Di dalamnya ada sponsor, hak siar, investasi, proyek infrastruktur, kontrak iklan, hingga perputaran dana yang nilainya mencapai triliunan rupiah.

Karena itu, menganggap sepakbola sebagai wilayah yang sepenuhnya bersih dari politik dan korupsi adalah cara pandang yang terlalu naif. Di mana ada kekuasaan dan uang dalam jumlah besar, di situ selalu ada potensi penyimpangan.

Namun bagian paling menarik bukanlah soal politik atau korupsi dalam sepakbola. Yang lebih menarik adalah bagaimana sepakbola mampu mengalihkan perhatian publik secara sangat efektif.

Menghadapi kemiskinan, menghadapi korupsi, menghadapi masalah ekonomi, itu semua tidak boleh diabaikan hanya karena kita sedang sibuk menonton pertandingan sepakbola.

Kita boleh merayakan kemenangan Timnas, tetapi kita tidak boleh melupakan kenyataan bahwa kehidupan nyata tetap berjalan setelah pertandingan berakhir.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.