Fokus Semarang | Rupiah terus melonjak ke level Rp18.036 per dolar AS pada hari Sabtu (6/6/2026), menandakan kenaikan nilai tukar yang signifikan. Menurut data Bloomberg, rupiah menguat 13 poin atau 0,07 persen dalam satu hari, menempati level yang stabil dibandingkan penutupan sebelumnya.
Pergerakan rupiah ini juga didukung oleh data Google Finance dan Investing, yang menunjukkan bahwa rupiah berada di kisaran Rp18.127-Rp18.140 per dolar AS pada perdagangan global Sabtu malam. Namun, perlu diingat bahwa perbedaan angka ini terjadi karena Bloomberg mengacu pada perdagangan pasar spot domestik yang berakhir pukul 16.00 WIB, sedangkan platform global mencatat transaksi yang masih berlangsung di pasar internasional.
Bank Indonesia (BI) juga mencatat nilai tukar rupiah yang stabil pada hari Jumat (5/6/2026), dengan kurs rupiah berada di level Rp18.039 per dolar AS. Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengatakan bahwa pemerintah dan bank sentral terus memperkuat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter untuk menjaga stabilitas ekonomi serta nilai tukar rupiah.
Perry Warjiyo menekankan dua fokus utama dalam penguatan koordinasi tersebut. Pertama, meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik guna mendorong masuknya aliran modal asing. Kedua, menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan melalui pengelolaan kas pemerintah di Bank Indonesia serta penyesuaian remunerasi yang diberikan BI kepada pemerintah.
Gubernur BI juga menegaskan bahwa langkah-langkah tersebut merupakan kesepakatan bersama antara otoritas fiskal dan moneter untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Nilai tukar rupiah yang stabil ini merupakan tanda positif bagi perekonomian Indonesia, yang telah lama menghadapi tekanan global. Dengan demikian, rupiah terus menjadi salah satu mata uang yang stabil di dunia.
Artikel ini menunjukkan bahwa pemerintah dan bank sentral terus berupaya untuk menjaga stabilitas ekonomi dan nilai tukar rupiah. Hal ini penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional dan mempertahankan keseimbangan ekonomi.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.


