Fokus Semarang| Sevilla menjadi saksi akhir pekan bersejarah pada 19 April 2026 ketika Real Sociedad dan Atletico Madrid beradu di final Copa del Rey. Pertandingan yang dijadwalkan di Estadio de La Cartuja berakhir dengan drama adu penalti, mengukir kembali catatan prestasi Real Sociedad sekaligus menambah derita Atletico yang masih menanti gelar pertama dalam 13 tahun.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Menjelang final, harapan Atletico Madrid melambung tinggi. Setelah berhasil menembus semifinal Liga Champions untuk pertama kalinya dalam sembilan musim, tim Diego Simeone menargetkan penutupan penantian Copa del Rey sejak 2013. Kapten Koke, satu-satunya pemain yang pernah mengangkat trofi pada edisi 2013, menegaskan keyakinannya: “Kami yakin akan kembali memenanginya.” Tekanan itu menambah beban mental para pemain, terutama Antoine Griezmann yang pernah menjadi bintang Real Sociedad pada fase juniornya, serta Alexander Sorloth yang pernah mengenakan seragam La Real selama dua musim.

Berawal dari tendangan bebas cepat, Real Sociedad mencetak gol tercepat dalam sejarah final Copa del Rey berkat sundulan Ander Barrenetxea yang memanfaatkan umpan silang Gonçalo Guedes. Gol tersebut memberi keunggulan awal 1-0 bagi La Real dan menimbulkan kegugupan pada lini belakang Atletico.

Atletico merespons pada menit ke‑19 lewat kolaborasi Griezmann dan Ademola Lookman. Griezmann mengirimkan umpan terarah, Lookman mengeksekusi tembakan keras yang menembus gawang Juan Musso, menyamakan kedudukan menjadi 1‑1. Momentum sempat berpihak pada Atletico, namun Guedes kembali menimbulkan peluang penalti setelah duel udara dengan Musso. Mikel Oyarzabal mengeksekusi penalti tersebut, mengembalikan keunggulan Real Sociedad menjadi 2‑1 pada babak pertama.

Babak kedua menyaksikan Atletico menekan terus. Pada menit ke‑83, Julian Álvarez menembakkan tendangan keras ke sudut atas gawang, menyamakan skor menjadi 2‑2. Kedua tim tetap berusaha mencetak gol penentu, namun kesempatan besar yang muncul lewat Alex Baena dan Johnny Cardoso tidak terwujud.

Setelah 120 menit bermain tanpa gol tambahan, laga beralih ke adu penalti. Tekanan memuncak ketika Alexander Sorloth gagal mengeksekusi tendangan pertamanya, sementara Juan Musso berhasil menangkis tembakan pertama Real Sociedad. Unai Marrero, kiper La Real, menahan tendangan Julian Álvarez dan Orri Oskarsson, memberikan Real Sociedad keunggulan 4‑3 pada deretan penalti. Pablo Marín menutup eksekusi dengan gol penentu, memastikan Real Sociedad mengangkat trofi Copa del Rey untuk keempat kalinya.

Keberhasilan Real Sociedad tidak lepas dari peran penting pemain-pemain muda dan veteran. Gonçalo Guedes, yang menjadi sumber umpan krusial, serta Mikel Oyarzabal yang menambah gol penalti, menunjukkan ketenangan dalam momen kritis. Di sisi lain, Atletico harus menelan kekecewaan, terutama karena kegagalan eksekusi penalti oleh Sorloth dan Álvarez serta kegagalan taktik ofensif di menit-menit akhir.

Dengan kemenangan ini, Real Sociedad mengulang sejarah 1987 ketika mereka juga mengalahkan Atletico Madrid lewat adu penalti. Namun, perbedaan signifikan terletak pada kehadiran suporter yang kembali mengisi stadion pasca pandemi, menciptakan atmosfer yang lebih hidup dan mendukung para pemain.

Penampilan final ini menegaskan kembali kualitas kompetisi Copa del Rey sebagai ajang yang mampu menghasilkan drama intens hingga menit terakhir. Bagi Real Sociedad, trofi ini menambah koleksi menjadi empat, memperkuat posisi mereka sebagai salah satu klub paling sukses di Spanyol. Sementara bagi Atletico Madrid, kegagalan ini menambah daftar panjang penantian yang kini berlanjut, menuntut evaluasi mendalam menjelang musim berikutnya.

Secara keseluruhan, final Copa del Rey 2026 menjadi contoh sempurna bagaimana sepak bola dapat menyuguhkan ketegangan, drama, dan kebahagiaan dalam satu paket, mengukir kenangan tak terlupakan bagi para pendukung kedua tim.