Fokus Semarang – 18 April 2026 | Barcelona menegaskan kembali keberatan resminya kepada UEFA setelah tim asal Katalonia tersingkir secara agregat 2-3 dari perempat final Liga Champions 2025/2026 melawan Atletico Madrid. Kekecewaan klub memuncak pada leg kedua yang berlangsung di Stadion Metropolitano, Madrid pada 14 April 2026 (waktu setempat) atau dini hari 15 April 2026 WIB. Meskipun berhasil mencatat kemenangan 2-1, hasil total tidak mampu mengubah nasib mereka yang harus menyerah pada tim Spanyol.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada 17 April 2026, Barcelona menyoroti sejumlah keputusan wasit yang dianggap tidak sesuai dengan Hukum Permainan. Klub menuduh kurangnya intervensi VAR pada momen-momen krusial, termasuk dua insiden yang mereka klaim seharusnya menghasilkan penalti bagi Blaugrana. Selain itu, Barcelona menilai kartu merah yang diberikan kepada Pau Cubarsi (leg pertama) dan Eric García (leg kedua) seharusnya hanya berupa kartu kuning, serta menilai bahwa gol Ferran Torres yang dianulir karena off‑side seharusnya sah.
Presiden Barcelona, Joan Laporta, menambahkan bahwa keputusan yang dianggap memihak ini tidak hanya memengaruhi hasil pertandingan, tetapi juga menimbulkan kerugian signifikan secara sportif dan finansial bagi klub. “Perwasitan ini memalukan,” ujar Laporta kepada wartawan, menambahkan bahwa klub sudah mengajukan keluhan serupa setelah leg pertama, namun UEFA menolak protes tersebut dengan alasan tidak dapat diterima.
Berikut rangkuman poin-poin utama protes Barcelona:
- Penilaian VAR dianggap tidak adekuat pada insiden penting, termasuk potensi penalti untuk Raphinha yang tidak diberikan.
- Kartu merah kepada Pau Cubarsi dan Eric García dianggap berlebihan; klub mengusulkan pengurangan menjadi kartu kuning.
- Gol Ferran Torres yang dianulir karena off‑side seharusnya dihitung.
- Insiden di mana kiper Juan Musso menabrak bibir Fermin López dengan sepatunya tidak ditindaklanjuti oleh wasit.
- Klaim bahwa Julian Álvarez (Atletico) dan Dani Olmo (Atletico) layak mendapatkan keputusan penalti yang tidak diberikan.
Raphinha, winger asal Brasil, mengungkapkan rasa frustrasinya dengan menyebut laga tersebut sebagai “perampokan”. Sementara pemain muda Lamine Yamal terlihat lesu setelah kekalahan leg pertama di Camp Nou, menandakan dampak psikologis yang dirasakan oleh skuad Barcelona.
Atletico Madrid, yang berhasil melaju ke semifinal dengan agregat 3-2, akan bertemu dengan Arsenal, perwakilan Liga Inggris, di babak berikutnya. Klub Spanyol menilai keputusan wasit sudah tepat, menolak semua tuduhan yang dilontarkan Barcelona.
Barcelona menegaskan kesiapan untuk bekerja sama dengan UEFA demi perbaikan sistem perwasitan. Klub meminta peninjauan kembali terhadap kebijakan VAR dan penegakan hukum permainan yang lebih ketat, adil, serta transparan. Mereka juga menyiapkan dokumen formal tambahan sebagai keluhan lanjutan, berharap UEFA memberikan respons yang konstruktif.
Sejumlah analis sepak bola menilai bahwa protes Barcelona mencerminkan ketegangan yang semakin meningkat antara klub-klub elit dan badan pengatur kompetisi Eropa. Jika UEFA tidak menanggapi secara memadai, hal ini dapat memicu preseden protes serupa di masa mendatang, mengingat besarnya taruhannya dalam Liga Champions.
Dalam konteks finansial, eliminasi dari Liga Champions berarti hilangnya pendapatan signifikan dari hak siar, hadiah kompetisi, dan penjualan tiket. Barcelona memperkirakan kerugian mencapai puluhan juta euro, menambah beban ekonomi klub yang sudah beroperasi di tengah tantangan keuangan pasca‑pandemi.
Meski protes ini menambah ketegangan, Barcelona tetap fokus pada kompetisi domestik. Di Liga Spanyol, mereka berusaha memperbaiki performa dan kembali bersaing untuk gelar La Liga, sambil menunggu keputusan UEFA mengenai keluhan mereka.
Kesimpulannya, Barcelona meluncurkan protes kedua ke UEFA dengan menekankan serangkaian keputusan wasit yang mereka anggap melanggar aturan. Klub menuntut transparansi dan akuntabilitas dalam sistem VAR serta penegakan hukum permainan yang konsisten. Respons UEFA akan menjadi penentu apakah perselisihan ini berakhir pada dialog konstruktif atau menimbulkan gesekan lebih lanjut antara otoritas kompetisi dan klub-klub top Eropa.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.


