Fokus Semarang | Asap hitam yang membubung dari kamar mesin KMP Aceh Hebat-2 di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, Jumat (12/6/2026), bukan hanya memicu kepanikan sesaat. Insiden itu seperti membuka kembali lembaran lama yang selama bertahun-tahun belum benar-benar selesai.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Kebakaran Aceh Hebat-2 melukai belasan penumpang dan siswa praktik. Mungkin bisa dianggap tidak seberapa. Tapi, kejadian itu sudah cukup memberi warning bahwa Aceh Hebat-2 terbukti tidak benar-benar hebat. Terbukti, lima tahun kemudian, kapal itu sudah mulai bermasalah. Durasi waktu yang terlalu cepat untuk sebuah kapal dengan harga sangat fantastis.

Karena itu, masyarakat mulai membahasnya lagi. Di warung kopi, di media sosial, hingga percakapan-percakapan kecil di sudut kota, satu pertanyaan lama kembali muncul: apakah proyek pengadaan kapal Aceh Hebat memang sejak awal menyimpan persoalan?

Tidak sedikit warga yang masih mengingat kontroversi yang mengiringi proyek tersebut sejak masa pembangunannya. Ketika Pemerintah Aceh di bawah kepemimpinan Nova Iriansyah memutuskan membangun tiga kapal ro-ro untuk memperkuat konektivitas antarpulau, proyek itu awalnya dipromosikan sebagai terobosan besar bagi transportasi laut Aceh.

Berdasarkan informasi yang beredar, pemeriksaan dilakukan di kantor BPKP Aceh. Nama-nama yang diperiksa antara lain berasal dari Dinas Perhubungan Aceh serta mantan pejabat Dinas PUPR Aceh yang terkait dengan proyek tersebut.

Puncak perhatian publik terjadi beberapa bulan kemudian. Pada 30 Oktober 2021, tim penyidik KPK datang langsung ke Pelabuhan Ulee Lheue untuk melakukan pemeriksaan fisik terhadap KMP Aceh Hebat-2. Pemeriksaan berlangsung hampir tujuh jam.

Sebelum pemeriksaan selesai, kapal bahkan sempat dibawa berlayar di sekitar perairan Ulee Lheue untuk menjalani uji mesin dan pengecekan teknis yang disaksikan langsung oleh tim penyidik.

Kedatangan KPK ke atas kapal ketika itu menjadi salah satu momen yang memperkuat keyakinan publik bahwa penyelidikan tidak hanya berhenti pada pemeriksaan dokumen, tetapi juga menyentuh aspek teknis dari kapal yang dipersoalkan.

Namun seperti banyak penyelidikan lain yang menjadi perhatian publik, kasus Aceh Hebat kemudian perlahan menghilang dari ruang pemberitaan.

Tidak ada pengumuman tersangka. Tidak ada konferensi pers besar. Tidak ada penjelasan rinci kepada publik mengenai hasil akhir penyelidikan tersebut.

Yang tersisa hanyalah berbagai spekulasi.

Tentu, insiden kebakaran tidak otomatis membuktikan adanya penyimpangan dalam pengadaan kapal. Penyebab kebakaran masih harus ditentukan melalui investigasi teknis yang objektif. Kerusakan mesin bisa disebabkan banyak faktor, mulai dari aspek operasional, pemeliharaan, usia komponen, hingga kesalahan teknis yang tidak terkait dengan proses pengadaan.

Namun dalam ruang publik, fakta teknis sering kali tidak berdiri sendiri.

Ketika sebuah proyek besar pernah diselimuti kontroversi, pernah diselidiki lembaga antikorupsi, dan tidak pernah memperoleh penjelasan yang memuaskan di mata masyarakat, maka setiap insiden baru akan selalu dibaca melalui lensa kecurigaan lama.

Karena itu, yang sesungguhnya dibutuhkan bukan sekadar penjelasan mengenai penyebab kebakaran Aceh Hebat-2. Publik juga berhak mendapatkan kejelasan yang lebih utuh mengenai perjalanan proyek kapal yang sejak awal diklaim sebagai simbol kemajuan transportasi laut Aceh tersebut.

Sebab kepercayaan publik tidak dibangun hanya oleh kapal yang berlayar. Ia dibangun oleh transparansi yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang selama ini masih menggantung di tengah masyarakat.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.