Fokus Semarang | Berawal dari sebuah warung dinding bambu di pinggir jalan, Warung Semur Kutuk Lek Safa’ah telah mengalami perjalanan panjang selama 61 tahun. Awalnya, usaha kuliner ini dipelopori oleh Mbah Kasti pada tahun 1965. Kemudian, generasi kedua mengambil alih tongkat estafet pada era 1990-an. Saat ini, warung ini dikelola oleh generasi ketiga, Safa’ah.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Menu utama yang menjadi primadona di warung ini adalah semur ikan kutuk atau ikan gabus. Proses pengolahan semur kutuk dilakukan secara tradisional. Ikan kutuk digoreng terlebih dahulu sebelum kemudian dimasukkan ke dalam kuah semur.

Warung Semur Kutuk Lek Safa’ah juga menawarkan menu alternatif seperti semur telur bebek bacem atau kecap. Meski demikian, kuah semur selalu menjadi fokus utama. Pelanggan bisa menikmati semur kutuk dengan harga Rp35.000 per porsi, yang terdiri dari nasi, semur kutuk, dan teh hangat.

Warung ini juga menyediakan versi praktis berupa nasi bungkus kutuk seharga Rp30.000 per porsi dan nasi telur ekonomis seharga Rp5.000 saja. Meski demikian, tantangan zaman tidak bisa dihindari. Minat pembeli kini mulai berkurang dan warung cenderung lebih sepi.

Salah satu faktor yang menyebabkan warung ini lebih sepi adalah hilangnya sejumlah pelanggan setia generasi terdahulu karena faktor usia dan meninggal dunia. Rentang waktu jualan pun kini sangat singkat, hanya dari pukul 15.30 WIB hingga 18.00 WIB.

Stok ikan yang diolah pun kini terbatas, rata-rata hanya dua ekor ikan kutuk besar dengan berat 2 kilogram, yang dipotong menjadi sekitar 10 irisan per hari. Walau pembeli tidak seramai dulu, kelezatan Semur Kutuk Lek Safa’ah ini tetap diburu oleh para pencinta kuliner lawas.

Para pelanggan setia dari luar kota seperti Semarang bahkan rela datang jauh-jauh ke Hadipolo demi menuntaskan rindu pada cita rasa autentik yang konsisten terjaga selama 61 tahun ini.

Warung Semur Kutuk Lek Safa’ah adalah bukti bahwa kuliner tradisional masih mempunyai tempat di hati masyarakat. Meski menghadapi tantangan zaman, warung ini tetap mempertahankan rasa autentik dan menjadi sumber kebanggaan bagi warga Kudus.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.