Fokus Semarang | SUARA UTAMA,GOWA – Antusiasme masyarakat untuk memasukkan anak-anak mereka ke lembaga pendidikan Al-Qur’an kembali terlihat pada Penerimaan Santri Baru (PSB) Tahun Pelajaran 2026/2027 di Pondok Pesantren Tahfiz Gratis Al-Imam Hafs Bin Sulaiman Al-Kufi, Kabupaten Gowa.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Pondok tahfiz yang dikenal memberikan pendidikan, asrama, dan makan secara gratis ini diserbu puluhan bahkan mendekati ratusan calon santri dari berbagai daerah. Namun dari jumlah pendaftar yang sangat besar tersebut, pihak pondok hanya mampu menerima 15 santri baru karena keterbatasan fasilitas yang dimiliki.

Tingginya minat masyarakat tidak terlepas dari kualitas pembinaan yang ditawarkan pondok tersebut. Para santri mendapatkan bimbingan langsung dari hafizh Al-Qur’an 30 juz yang memiliki sanad keilmuan yang bersambung hingga Rasulullah SAW serta para pembina yang merupakan alumni Timur Tengah.

Pimpinan sekaligus Pendiri Pondok Pesantren Tahfiz Gratis Al-Imam Hafs Bin Sulaiman Al-Kufi, Ustadz Supriyansa, S.Pd., mengungkapkan bahwa pihaknya sebenarnya ingin menerima lebih banyak santri. Namun kondisi sarana dan prasarana yang ada membuat hal tersebut belum memungkinkan.

"Kami sangat bersyukur karena kepercayaan masyarakat terus meningkat. Setiap tahun jumlah pendaftar bertambah. Namun dengan segala keterbatasan yang ada, kami terpaksa membatasi jumlah penerimaan santri baru. Ini keputusan yang berat bagi kami," ujar Ustadz Supriyansa, Selasa (09/06/2026).

"Santri tidak hanya ditargetkan hafal 30 juz. Mereka juga dibimbing agar bacaan Al-Qur’annya benar sesuai kaidah tajwid dan memiliki sanad yang jelas. Pembina kami merupakan hafizh bersanad dan alumni Timur Tengah yang memahami metode tahfiz modern," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa para orang tua yang mendaftarkan anaknya berasal dari berbagai wilayah di Sulawesi Selatan, bahkan beberapa datang dari luar pulau setelah mendapatkan informasi mengenai program tahfiz gratis yang dijalankan pondok tersebut.

"Santri tidak hanya ditargetkan hafal 30 juz. Mereka juga dibimbing agar bacaan Al-Qur’annya benar sesuai kaidah tajwid dan memiliki sanad yang jelas. Pembina kami merupakan hafizh bersanad dan alumni Timur Tengah yang memahami metode tahfiz modern," jelasnya.

"Santri tidak hanya ditargetkan hafal 30 juz. Mereka juga dibimbing agar bacaan Al-Qur’annya benar sesuai kaidah tajwid dan memiliki sanad yang jelas. Pembina kami merupakan hafizh bersanad dan alumni Timur Tengah yang memahami metode tahfiz modern," jelasnya.

Tingginya minat masyarakat belum sejalan dengan kondisi fasilitas pondok yang masih sangat terbatas. Saat ini pihak pondok menghadapi sejumlah kendala yang membuat kapasitas penerimaan santri tidak dapat ditingkatkan.

Kendala pertama adalah kapasitas asrama yang sudah melebihi batas ideal. Gedung asrama yang ada saat ini hanya mampu menampung sekitar 50 santri. Dengan tambahan 15 santri baru pada tahun ajaran ini, kondisi asrama dipastikan semakin padat.

Kedua, pondok belum memiliki ruang kelas yang memadai. Aktivitas belajar mengajar, khususnya program karantina tahfiz, masih memanfaatkan area masjid dan teras bangunan yang ada.

Ketiga, persoalan air bersih masih menjadi tantangan serius. Sumur bor yang digunakan sering mengalami kekeringan sehingga para santri harus mengantre untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun berwudhu.

Keempat, seluruh operasional pondok masih bergantung pada donasi para dermawan dan muhsinin. Kebutuhan makan santri, pembayaran listrik, hingga bisyarah para guru tahfiz sepenuhnya berasal dari bantuan masyarakat.

"Jujur, hati kami sedih ketika harus menolak banyak calon santri. Mereka datang dengan harapan besar untuk belajar Al-Qur’an. Namun kami tidak ingin memaksakan keadaan karena akan berdampak pada kualitas pembinaan yang mereka terima," kata Ustadz Supriyansa.

Ia menegaskan bahwa meskipun seluruh program diberikan secara gratis, pihak pondok tidak ingin mengurangi standar pendidikan yang telah ditetapkan.

"Gratis bukan berarti seadanya. Kami memiliki target yang jelas. Santri dibimbing agar mampu menyelesaikan hafalan 30 juz dalam waktu sekitar tiga tahun dengan kualitas hafalan yang kuat dan bacaan yang benar sesuai sanad. Untuk mencapai target tersebut dibutuhkan lingkungan belajar yang nyaman dan fasilitas yang memadai," tegasnya.

Saat ini pondok hanya memiliki satu asrama sederhana dan satu aula darurat yang digunakan untuk berbagai aktivitas sekaligus, mulai dari belajar, makan hingga kegiatan lainnya.

Beberapa kebutuhan yang dinilai paling mendesak antara lain pembangunan asrama dan ruang kelas baru dengan kapasitas 30 hingga 50 santri, pembangunan sumur bor dan tandon air untuk mengatasi krisis air bersih, serta dukungan operasional harian bagi para santri dan tenaga pengajar.

"Setiap hari para santri berinteraksi dengan Al-Qur’an. Jika jumlah santri bertambah, semakin banyak pula ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca dan dihafalkan. Kami berharap ada kaum muslimin yang tergerak membantu pembangunan pondok ini agar lebih banyak generasi penghafal Al-Qur’an dapat dibina," ungkapnya.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.