Fokus Semarang | Suasana berbeda terlihat di Museum Keluarga HM Ashadie, Desa Janggalan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. Alih-alsibuk menatap layar ponsel, puluhan anak muda tampak tenggelam dalam lembaran kertas dan alat gambar yang mereka bawa.
Sebanyak 42 peserta mengikuti kegiatan menggambar bersama yang digelar melalui kolaborasi Kudus Sketch dan Cerita Kudus Tuwa (CKT). Agenda tersebut menjadi ruang alternatif bagi anak muda untuk melepas penat, mengekspresikan diri, sekaligus menjalin pertemanan melalui hobi yang sama.
Di berbagai sudut museum, peserta terlihat fokus mengamati lingkungan sekitar. Ada yang mengabadikan detail bangunan rumah saudagar, motif batik lawas, hingga suasana khas kawasan bersejarah yang mereka temui selama kegiatan berlangsung.
Sebelum mulai menggambar, para peserta terlebih dahulu mengikuti walking tour menyusuri sejumlah koleksi dan jejak sejarah yang tersimpan di Museum Keluarga HM Ashadie. Pengalaman itu kemudian mereka tuangkan ke dalam bentuk sketsa dengan gaya dan interpretasi masing-masing.
Salah seorang peserta, Rahma Abel Sadiya, mengaku kegiatan tersebut menjadi cara yang menyenangkan untuk beristirahat sejenak dari rutinitas perkuliahan.
“Karena sudah jadi hobi, awalnya lihat di medsos kemudian join. Ternyata seru bertemu orang baru yang satu hobi,” ujarnya.
Bersama rekannya, Shindika Putri, Rahma mengaku menemukan aktivitas baru yang tidak hanya menghibur tetapi juga membuka kesempatan memperluas relasi dengan sesama pecinta gambar di Kudus.
Inisiator Kudus Sketch, Rizka Soviana, mengatakan antusiasme peserta cukup tinggi meski komunitas tersebut baru berjalan sekitar dua bulan.
“Akhirnya, saya membentuk komunitas ini dan banyak yang ingin bergabung. Menurut saya, ini satu komunitas dengan kegiatan yang positif dan produktif,” katanya.
Lebih dari sekadar menggambar, kegiatan tersebut juga menjadi wadah bertemunya berbagai komunitas dan pegiat kreatif di Kudus. Melalui kegiatan bersama, peserta diajak saling bertukar ide, pengalaman, serta membangun jejaring baru yang produktif.
Rizka berharap komunitas yang dibangun dapat terus berkembang dan menjadi ruang aman bagi anak-anak muda untuk berkarya, berbagi cerita, serta menyalurkan minat mereka secara positif.
“Saya lihat banyak anak muda di Kudus yang jago gambar, tetapi mereka jarang terekspos, karena tidak ada wadah. Komunitas ini, kami harap bisa jadi ruang untuk saling berbagi, bertukar ide dan menggambar bersama teman-teman sefrekuensi,” paparnya.
Hasil karya para peserta rencananya akan dikumpulkan dan dipamerkan di lokasi yang sama.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.


