Fokus Semarang | Harga minyak dunia mengalami kenaikan signifikan pada perdagangan Rabu (10/6/2025) setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan peringatan keras kepada Iran. Ancaman tersebut kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap risiko perang yang dapat mengganggu pasokan energi global. Minyak mentah Brent naik 1% menjadi US$ 92,38 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 1,25% ke level US$ 89,30 per barel.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Kenaikan harga terjadi setelah Trump menuding Iran terlalu lambat mencapai kesepakatan dengan Washington. Dalam unggahannya di Truth Social, Trump menyatakan Teheran kini harus "membayar harga" karena gagal memanfaatkan peluang negosiasi yang menurutnya menguntungkan. Laporan Fox News juga menyebut Trump hampir memerintahkan serangan baru terhadap sejumlah fasilitas vital Iran, termasuk pembangkit listrik dan jembatan.

Pelaku pasar kini mencermati langkah lanjutan Washington dan dampaknya terhadap pasokan minyak global. Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan harapan tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran sebelumnya sempat menekan harga minyak dalam beberapa hari terakhir. Namun, ketidakpastian mengenai langkah Trump berikutnya membuat pasar kembali waspada.

Kekhawatiran semakin meningkat setelah militer AS menyerang sejumlah target di Iran sebagai respons atas jatuhnya helikopter serang Apache milik AS. Di sisi lain, Teheran memperingatkan akan melanjutkan aksi militer jika Israel terus menyerang kelompok Hizbullah di Lebanon. Menurut analis pasar senior Phillip Nova, Priyanka Sachdeva, eskalasi terbaru tersebut kembali menambahkan premi risiko geopolitik ke pasar minyak.

Selain faktor geopolitik, harga minyak juga mendapat dukungan dari penurunan stok minyak mentah AS. Data American Petroleum Institute (API) menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun selama delapan pekan berturut-turut pada pekan lalu. Stok bensin juga tercatat menyusut, menandakan permintaan energi masih cukup kuat. Namun, kenaikan harga masih tertahan oleh melemahnya impor minyak China serta mulai meningkatnya lalu lintas kapal di kawasan Teluk Persia.

Selat Hormuz menjadi perhatian utama pasar karena jalur tersebut biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia. Iran hingga kini masih membatasi sebagian besar lalu lintas pelayaran di kawasan tersebut, sementara AS menerapkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Di tengah ketidakpastian tersebut, analis JPMorgan memperkirakan harga minyak Brent akan bertahan di kisaran rata-rata US$100 per barel untuk sebagian besar sisa tahun 2026, seiring tingginya risiko geopolitik dan ketatnya pasokan global.

Dengan demikian, harga minyak global diprediksi akan terus meningkat dalam beberapa hari ke depan, mengingat risiko perang yang meningkat dan ketatnya pasokan energi.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.