Fokus Semarang | Piala Dunia 1998 di Prancis adalah edisi monumental yang menandai era modern sepak bola. Turnamen ini berjalan sangat meriah, dipopulerkan oleh lagu tema ikonik "The Cup of Life" milik Ricky Martin. Namun, buku sejarah Piala Dunia 1998 akan selalu didominasi oleh satu misteri besar di malam final yang melibatkan pemain terbaik di dunia, serta bagaimana jersey nomor 10 milik tuan rumah menyatukan sebuah bangsa yang sempat terpecah.
Misteri kondisi Ronaldo menjelang final masih menjadi perdebatan hingga saat ini. Pada saat itu, Brasil dipercaya akan mempertahankan gelar juara mereka, dengan Ronaldo sebagai pemain utama. Namun, drama besar yang menggemparkan dunia meledak tepat 72 menit sebelum sepak mula. Ketika lembaran susunan pemain resmi tim Brasil dibagikan kepada jurnalis di stadion, nama Ronaldo tidak ada dalam daftar. Skuad Brasil justru memasukkan nama Edmundo sebagai penyerang utama.
Skuad Brasil justru memasukkan nama Edmundo sebagai penyerang utama. Pers seketika gempar. Berbagai spekulasi liar bermunculan dalam hitungan menit. Baru pada era modern, kronologi malam mencekam di hotel tim Brasil itu terungkap ke publik. Pukul 14.00: Setelah makan siang, Ronaldo mengalami kejang-kejang hebat di kamarnya hingga mulutnya mengeluarkan busa dan kehilangan kesadaran selama beberapa menit.
Aksi rekan setim: Roberto Carlos yang sekamar dengannya berteriak histeris meminta bantuan. Edmundo dan Cesar Sampaio berlari masuk untuk memegangi lidah Ronaldo agar tidak tertelan. Keputusan medis: Ronaldo dilaraikan ke rumah sakit terdekat untuk menjalani tes saraf dan jantung. Dokter tim menyatakan ia tidak bugar untuk bermain.
Melalui tekanan psikologis yang luar biasa, pelatih Mario Zagallo akhirnya mengalah dan memasukkan kembali nama Ronaldo ke dalam susunan pemain utama, hanya beberapa menit sebelum kedua tim keluar dari lorong stadion. Namun, keputusan memainkan Ronaldo terbukti menjadi blunder psikologis terbesar bagi Brasil. Sang Fenomena bermain seperti linglung, kehilangan magisnya, dan tampak lesu di lapangan akibat pengaruh obat penenang yang dikonsumsinya pasca-kejang.
Situasi compang-camping Brasil dimanfaatkan dengan sempurna oleh dirigen lini tengah Prancis, Zinedine Zidane. Pemain nomor 10 berkepala plontos itu menampilkan performa magis yang mengubah dirinya dari seorang bintang menjadi pahlawan nasional abadi.
Zidane tampil kesetan mengacak-acak barisan pertahanan Brasil. Pemain berdarah Aljazair itu seakan-akan "mengajari" para pemain Brasil memainkan sepak bola. Zidane membawa Prancis unggul 2-0 di babak pertama lewat sundulan mematikannya.
Brasil sempat mendapatkan momentum setelah Prancis harus bermain dengan 10 orang di babak kedua setelah Marcel Desailly mendapat kartu merah. Namun, keunggulan pemain tak mampu dimanfaatkan Brasil yang sudah kadung tertekan dan sang fenomena tak bisa menunjukkan magisnya. Justru, Prancis yang sukses mempertegas keunggulannya lewat gol Emmanuel Petit yang sekaligus memastikan Les Bleus menang 3-0 dan merengkuh trofi Piala Dunia pertamanya.
Keberhasilan mereka mengangkat piala berhasil meredam tensi rasisme dan menyatukan seluruh masyarakat Prancis dalam pawai perayaan satu juta orang di jalanan Champs-Élysées.
David Beckham Jadi Musuh Publik Inggris Selain drama Ronaldo dan kejayaan Zidane, edisi 1998 menjadi titik balik karier yang sangat emosional bagi bintang muda Inggris, David Beckham. Di babak 16 besar melawan Argentina, Beckham terprovokasi oleh kapten Argentina, Diego Simeone.
Saat terjatuh karena dilanggar dari belakang, Beckham yang sedang tengkurap secara refleks menendang kaki Simeone di depan mata wasit Kim Milton Nielsen. Simeone berakting jatuh dengan dramatis, dan wasit langsung mengacungkan kartu merah untuk Beckham.
Inggris akhirnya tersingkir lewat adu penalti. Sekembalinya ke Inggris, Beckham dijadikan kambing hitam tunggal atas kegagalan negara. Media massa menghujatnya habis-habisan, ia menerima ancaman pembunuhan, bahkan sebuah boneka berkostum Beckham digantung di luar sebuah pub di London.
Ini adalah salah satu ujian mental terberat bagi seorang pesepak bola sebelum ia akhirnya bangkit menjadi legenda di kemudian hari.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.


