Fokus Semarang | Jakarta: Pengembangan teknologi 5G di Indonesia telah menjadi fokus utama sebagian besar operator seluler. Namun, meningkatkan efisiensi dan kinerja jaringan 5G di tengah keterbatasan sumber daya masih menjadi tantangan besar. Oleh karena itu, Ericsson memperkenalkan AI in RAN, sebuah perangkat lunak yang mengintegrasikan model kecerdasan buatan kelas telekomunikasi langsung ke dalam unit baseband dan radio untuk meningkatkan efisiensi dan kinerja jaringan 5G.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Berdasarkan teknologi AI in RAN, penggunaan otomasi yang lebih cerdas dan penghematan energi dapat dilakukan tanpa memerlukan tambahan perangkat keras bagi penyedia layanan komunikasi. Hal ini memungkinkan operator seluler untuk meningkatkan efisiensi dan kinerja jaringan 5G, serta menghemat biaya operasional.

AI in RAN juga dapat membantu operator seluler dalam menghadapi tantangan biaya infrastruktur. Dengan menggunakan teknologi ini, operator dapat meningkatkan efisiensi dan kinerja jaringan 5G, serta menghemat biaya operasional. Hal ini dapat membantu operator seluler dalam menghadapi tantangan biaya infrastruktur di masa depan.

Nora Wahby, Presiden Direktur Ericsson Indonesia, menekankan bahwa teknologi AI in RAN akan membantu operator memenuhi lonjakan permintaan data sekaligus memperkuat fondasi visi Indonesia Digital 2045 melalui jaringan yang cerdas dan berkelanjutan.

Penerapan AI in RAN juga sejalan dengan target Kementerian Komunikasi dan Digital untuk mencapai cakupan 5G sebesar 32 persen pada tahun 2030. Melalui pemanfaatan Ericsson Silicon dan chip khusus, pemrosesan AI dapat berjalan sangat cepat hingga hitungan mikrodetik dengan konsumsi energi yang tetap hemat. Hal ini sangat mendukung agenda transformasi digital nasional, termasuk ambisi peluncuran layanan 5G yang lebih luas sebelum peringatan kemerdekaan Indonesia tahun ini.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.