Fokus Semarang | Krisis air bersih yang melanda banyak wilayah di dunia telah memicu inovasi teknologi yang semakin canggih. Peneliti dari University of Rochester telah berhasil menciptakan perangkat desalinasi bertenaga surya yang multifungsi. Teknologi ini menggunakan material khusus yang disebut superwicking black metal, yang dapat menyerap hampir seluruh cahaya matahari secara efisien.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Permukaan logam tersebut ditembak menggunakan pulsa laser femtosecond untuk mengubah struktur mikroskopisnya. Hasilnya, logam ini mampu menyedot air laut agar menyebar menjadi lapisan tipis untuk proses penguapan. Masalah utama dalam desalinasi tradisional adalah penumpukan kerak garam yang menyumbat mesin. Tim peneliti menggunakan prinsip “efek cincin kopi” untuk mengatasi hambatan tersebut.

Prinsip ini mengarahkan garam dan mineral ke area pasif secara otomatis. Dengan mekanisme pembersihan mandiri ini, area utama penguapan tetap bersih dan efisien. Inovasi terbaru di tahun 2026 ini tidak hanya menghasilkan air tawar. Peneliti menyematkan nanopartikel hydrogen titanate untuk menangkap ion litium dari air laut.

Litium merupakan material krusial bagi produksi baterai kendaraan listrik masa depan. Penangkapan langsung dari air laut ini dinilai jauh lebih ramah lingkungan dibandingkan penambangan konvensional. Keunggulan utama teknologi ini adalah ramah lingkungan, efisiensi tinggi, nilai tambah, dan perawatan mudah.

Meskipun saat ini masih dalam tahap pembuktian konsep, inovasi ini memberikan harapan besar bagi masa depan. Teknologi ini menawarkan solusi berkelanjutan untuk mengatasi krisis air sekaligus menyediakan material baterai secara mandiri.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.