Fokus Semarang | Ketika publik Aceh membicarakan cadangan gas raksasa di kawasan Andaman, sebagian besar perhatian tertuju pada angka investasi, potensi pendapatan daerah, atau peluang kerja yang mungkin tercipta. Namun, jika ditarik lebih jauh, Andaman sesungguhnya bukan sekadar cerita tentang migas. Perairan Andman menyimpan kisah tentang sejarah kejayaan Aceh di masa lalu. Dan, ketika sumber kekayaan alam ditemukan di sana, ini adalah momentum untuk mengembalikan Aceh pada identitas aslinya: sebuah kawasan maritim yang sejak berabad-abad lalu hidup dan tumbuh karena laut.
Secara geografis, Aceh menempati posisi yang sangat istimewa. Wilayah ini berada di pintu masuk Selat Malaka dan berhadapan langsung dengan Samudra Hindia. Kedua jalur tersebut merupakan salah satu urat nadi perdagangan global. Berbagai studi logistik internasional menempatkan Selat Malaka sebagai salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia yang menghubungkan kawasan Asia Timur dengan Timur Tengah, Afrika, dan Eropa.
Posisi strategis inilah yang dahulu melahirkan Kesultanan Aceh Darussalam sebagai kekuatan regional pada abad ke-16 hingga ke-17. Aceh bukan hanya kerajaan yang kuat secara militer, tetapi juga pemain utama dalam perdagangan internasional. Hubungan diplomatik dengan Turki Utsmani, Arab, Gujarat, India, hingga bangsa-bangsa Eropa menunjukkan bahwa Aceh pernah memainkan peran penting dalam geopolitik maritim dunia.
Banyak daerah kaya migas justru terjebak dalam apa yang dikenal sebagai resource curse atau kutukan sumber daya alam. Ketika ekonomi terlalu bergantung pada sektor ekstraktif, yang muncul sering kali bukan kemakmuran berkelanjutan, melainkan ketimpangan sosial, korupsi, lemahnya inovasi, serta ketergantungan fiskal yang tinggi.
Aceh tentu tidak boleh mengulangi kesalahan yang sama. Langkah pertama yang paling mendesak adalah memastikan tata kelola yang transparan dan akuntabel. Masyarakat Aceh perlu memperoleh manfaat nyata dari pengelolaan sumber daya tersebut. Jangan sampai kekayaan yang berada di depan mata hanya dinikmati oleh segelintir elite politik dan korporasi, sementara masyarakat pesisir tetap berada dalam lingkaran kemiskinan.
Temuan gas di Blok South Andaman bukan lagi sekadar spekulasi eksplorasi. Dalam dua tahun terakhir, perusahaan energi Mubadala Energy mencatat penemuan besar melalui sumur Layaran-1 dan Tangkulo-1. Data perusahaan menunjukkan potensi gas di kawasan tersebut mencapai lebih dari 8 hingga 10 triliun kaki kubik (TCF), menjadikannya salah satu temuan energi terbesar di Asia Tenggara dalam beberapa dekade terakhir.
Pada saat yang sama, semangat diplomasi ekonomi yang pernah menjadi kekuatan Aceh di masa lalu juga perlu dihidupkan kembali. Tentu bukan dalam bentuk hubungan politik seperti era kesultanan, melainkan melalui penguatan kerja sama investasi, perdagangan, konektivitas pelayaran, dan jejaring ekonomi kawasan Samudra Hindia.
Keunggulan geografis Aceh adalah aset yang tidak bisa dipindahkan ke daerah lain. Tantangannya hanya satu: apakah kita mampu mengelolanya dengan visi yang cukup panjang. Pada akhirnya, masa depan Aceh tidak ditentukan oleh seberapa besar cadangan gas yang tersimpan di bawah laut Andaman. Masa depan Aceh ditentukan oleh kualitas kebijakan yang lahir di atas permukaan.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.


