Fokus Semarang | Jawa Tengah telah menjadi sorotan nasional setelah dugaan kasus kekerasan seksual oleh pengasuh padepokan di Demak. Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan bahwa penindakan dan pencegahan kekerasan seksual harus menjadi gerakan bersama. Menurutnya, penanganan kasus semacam itu tidak hanya mengandalkan proses hukum, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif tokoh agama, pemerintah, dan masyarakat.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Luthfi menambahkan bahwa proses hukum harus berjalan untuk memberikan efek jera kepada pelaku, namun langkah pencegahan dinilai jauh lebih penting agar kasus serupa tidak terus berulang. Ia menekankan bahwa upaya pencegahan memerlukan sinergi lintas sektor, termasuk Kementerian Agama, pemerintah daerah, tokoh agama, lembaga pendidikan keagamaan, dan masyarakat.

Sekretaris Daerah Jawa Tengah, Sumarno, menambahkan bahwa pemerintah provinsi berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait menyusul munculnya dugaan kasus tersebut. Ia menegaskan bahwa keputusan terkait keberlangsungan lembaga tersebut tidak bisa langsung serta merta karena menyangkut keberadaan para santri yang masih tinggal dan menempuh pendidikan di lokasi tersebut.

Kasus dugaan kekerasan seksual oleh pengasuh padepokan di Demak sebelumnya menjadi sorotan setelah korban melaporkan peristiwa tersebut kepada aparat penegak hukum. Kasus itu disebut telah dilaporkan sejak 2025. Hingga kini perkaranya masih ditangani polisi.

Mencuatnya kasus itu kembali memicu perhatian publik terhadap pentingnya pengawasan di lingkungan pendidikan dan lembaga keagamaan, sekaligus memastikan korban memperoleh perlindungan serta akses terhadap proses hukum yang berkeadilan.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.