Fokus Semarang | Jakarta – Pendidikan Indonesia dihadapkan pada tantangan berat. Data Survei Penilaian Integritas (SPI) Pendidikan 2024 menunjukkan indeks integritas sektor pendidikan Indonesia baru menyentuh angka 69,50 dari skala 100. Angka ini menjadi red flag yang menunjukkan sistem integritas baru sebatas terbentuk, namun belum menjadi budaya yang berjalan konsisten.
Selain itu, catatan survei tersebut mengungkap 28 persen sekolah masih nekat memungut biaya ilegal alias pungli selama masa Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Lebih miris lagi, ada 23 persen sekolah yang masih tutup mata terhadap praktik kecurangan dalam proses sertifikasi dan akreditasi. Masalah ini juga menjamur di tingkat keluarga.
Sebanyak 65 persen responden orang tua merasa wajar memberikan hadiah (gratifikasi) kepada guru pada momen tertentu. Di saat yang sama, 30 persen tenaga pendidik masih menganggap penerimaan gratifikasi sebagai hal yang lumrah.
Merespons realita ini, Wakil Ketua MPR, Lestari Moerdijat menegaskan bahwa lingkungan keluarga dan lembaga pendidikan memegang peranan vital. Nilai-nilai integritas wajib diintegrasikan dalam setiap proses tumbuh kembang dan aktivitas belajar mengajar.
Tanpa fondasi integritas tersebut, anak-anak Indonesia diyakini tidak hanya akan tumbuh menjadi generasi yang smart secara akademis, tetapi juga memiliki mental tangguh untuk berani menolak segala bentuk kecurangan.
Penanaman nilai-nilai integritas sejak dini merupakan fondasi utama pembangunan karakter anak bangsa yang merupakan bagian dari upaya pencegahan korupsi.
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor 7 Tahun 2026 tentang Pencegahan Korupsi dan Pengendalian Gratifikasi dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB). Langkah ini diharapkan dapat membantu mencegah praktik kecurangan dalam proses SPMB.
Tetapi, menurut Wakil Ketua MPR, Lestari Moerdijat, langkah formal tersebut belum cukup. Pencegahan korupsi harus diselesaikan langsung dari akarnya, yakni dengan menanamkan integritas sebagai karakter dasar anak bangsa.
Integritas harus ditaman sejak dini untuk membangun generasi yang tangguh dan memiliki mental yang kuat untuk berani menolak segala bentuk kecurangan. Dengan demikian, anak-anak Indonesia dapat tumbuh menjadi generasi yang cerdas secara akademis dan memiliki karakter yang baik.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.


