Fokus Semarang | DENPASAR – Umat Hindu di Bali merayakan berbagai rangkaian upacara keagamaan menjelang Hari Suci Galungan. Salah satu yang paling krusial adalah Rahinan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali. Namun, masih banyak masyarakat yang salah menafsirkan makna kedua rahinan ini, bahkan mengaitkannya dengan silsilah atau asal-usul garis keturunan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Anggapan bahwa mereka yang merayakan Sugihan Jawa adalah warga yang leluhurnya dulu berasal dari Pulau Jawa atau era Majapahit, sedangkan masyarakat yang hanya merayakan Sugihan Bali dianggap memiliki leluhur yang merupakan warga ‘Asli Bali’, ‘Bali Mula’, atau ‘Bali Aga’.

Miskonsepsi kultural ini mengaburkan esensi filosofis yang tertuang dalam susastra suci Hindu. Jika ditinjau dari aspek bahasa dan teologi, pembagian kedua hari suci ini sama sekali tidak berkaitan dengan asal-usul geografis leluhur, melainkan pembagian wilayah penyucian alam.

Sulinggih Ida Rsi Agung Bhagawan Dharma Putra Adnyana menjelaskan bahwa kata ‘Jawa’ dalam Sugihan Jawa sebenarnya berasal dari urat kata Sugi yang berarti membersihkan, dan Jaba (Jawa) yang berarti luar. ‘Sugihan Jawa dimaknai sebagai hari penyucian secara sekala maupun niskala terhadap alam makro atau Bhuwana Agung,’ ungkapnya.

Hal ini diperkuat oleh konsep dalam Lontar Sundarigama. Sugihan Jawa diartikan sebagai Pasucian Dewa Kalinggania pamrastista Bhatara Kabeh, yang berarti hari penyucian bagi semua Bhatara. Pada hari Wraspati Wage Sungsang yang juga disebut hari Parerebon, umat Hindu melakukan upacara rerebu atau marerebon yang bertujuan menetralisir kekuatan negatif pada alam semesta.

Sementara itu, sehari setelahnya adalah Sugihan Bali. Kata ‘Bali’ di sini merujuk pada bahasa Sanskerta yang berarti kekuatan di dalam diri. Berdasarkan Lontar Sundarigama, Sugihan Bali bermakna Kalinggania amrestista raga tawulan, yang artinya menyucikan badan jasmani dan rohani masing-masing (mikrokosmos/Bhuwana Alit). Umat Hindu melaksanakan pembersihan lahir batin ini dengan memohon tirta pembersihan atau melakukan penglukatan, salah satunya menggunakan sarana bungkak nyuh gading.

Ida Rsi Agung Bhagawan Dharma Putra Adnyana menambahkan, umat dapat melaksanakan kedua rangkaian Sugihan ini, tanpa memandang sekat asal-usul. Berdasarkan susastra kuno, menjelang Galungan, Dewa Siwa dikisahkan menugaskan para Bhuta untuk turun ke bumi dan menggoda iman manusia.

Oleh karena itu, umat Hindu di Bali harus berhati-hati dalam melaksanakan upacara keagamaan ini. Mereka harus memahami makna yang sebenarnya dari Sugihan Jawa dan Sugihan Bali, yaitu sebagai hari penyucian alam dan manusia.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.