Fokus Semarang | Kutai Timur – Pernyataan Wali Kota Bontang bahwa 18 anak dari Kampung Sidrap, Kabupaten Kutai Timur, telah bersekolah di Kota Bontang telah menimbulkan perdebatan di kalangan warga perbatasan. Menurut beberapa warga, masih terdapat anak-anak yang mengalami kendala saat mendaftar ke sekolah negeri di Bontang, terutama terkait administrasi kependudukan.
Ketua RT 14 Sidrap Dalam mengungkapkan bahwa beberapa warganya mengaku tidak dapat melanjutkan proses pendaftaran di sekolah negeri Bontang karena masih berstatus warga Kutai Timur. Bahkan, ada siswa lulusan SD Negeri 004 Kutai Timur yang memiliki Kartu Keluarga Bontang serta sertifikat prestasi tingkat provinsi, namun tetap mengalami kendala saat mendaftar.
Informasi yang diterima menunjukkan bahwa penerimaan di SMP 5 dan SMP 9 Bontang memang sangat diperketat. Ada warga yang mengaku ditolak setelah menunjukkan dokumen kependudukan yang masih tercatat Kutai Timur.
Ia menilai persoalan tersebut menunjukkan masih adanya tantangan akses pendidikan bagi anak-anak yang tinggal di kawasan perbatasan Kutai Timur dan Bontang. Karena itu, ia berharap pemerintah segera menghadirkan solusi yang lebih dekat bagi masyarakat setempat.
Sementara itu, Kepala Desa Martadinata, Sutrisno, mengatakan bahwa rencana pembangunan SMP filial di kawasan perbatasan sebenarnya telah dipersiapkan sejak tahun lalu. Bahkan, lokasi pembangunan sekolah tersebut sudah tersedia dan siap untuk direalisasikan.
Meski demikian, pihaknya berharap pembangunan SMP filial dapat kembali menjadi prioritas pemerintah daerah pada tahun mendatang. Menurutnya, keberadaan sekolah tersebut sangat dibutuhkan untuk menjawab persoalan akses pendidikan bagi anak-anak di kawasan perbatasan Kutai Timur-Bontang.
Warga berharap persoalan akses pendidikan di kawasan perbatasan menjadi perhatian bersama, sehingga setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan tanpa terkendala persoalan administratif maupun batas wilayah.
Artikel ini menyimpulkan bahwa hambatan pendidikan di kawasan perbatasan Kutai Timur-Bontang masih menjadi tantangan yang perlu diatasi. Dengan adanya solusi yang lebih dekat bagi masyarakat setempat, diharapkan anak-anak dapat memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan yang layak dan mudah dijangkau.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.


