Fokus Semarang | Bagi para romantis sepak bola, Piala Dunia 1970 merupakan turnamen yang bisa dikatakan sangat sakral. Digelar di bawah terik matahari Meksiko yang eksotis, Piala Dunia edisi kesembilan ini adalah perpaduan sempurna antara keindahan seni, revolusi teknologi siaran, sportivitas tingkat tinggi, dan kematangan taktis.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Ini adalah momen ketika dunia untuk pertama kalinya menyaksikan sepak bola bergulir di layar kaca mereka dalam format televisi berwarna. Warna jersey kuning terang Timnas Brasil, hijaunya rumput stadion, hingga bola ikonik Adidas Telstar bermotif hitam-putih, semuanya berpadu mengubah sepak bola menjadi tontonan pop-culture global.

Kembalinya Sang Raja dan Skuad yang Mustahil Ditiru

Setelah sengaja diincar dan dicederai dengan kasar pada Piala Dunia 1966 di Inggris, Pele sempat bersumpah tidak akan pernah mau lagi bermain di Piala Dunia. Namun, ia menarik kembali keputusannya demi satu misi terakhir: membawa pulang trofi Jules Rimet kembali ke Brasil.

Selecao mengirimkan skuad yang oleh banyak pakar sejarah sepak bola dinilai sebagai tim terbaik yang pernah tercipta di muka bumi. Pelatih Mario Zagallo berhasil menyatukan lima pemain bernomor punggung 10 di klubnya masing-masing menjadi satu simfoni yang mematikan: Pele, Tostao, Rivelino, Gerson, dan Jairzinho.

Gaya bermain mereka adalah Joga Bonito dalam bentuk paling murni. Dan hasilnya sangat mengerikan. Mau tau?

Berikut catatan yang hampir mustahil bisa ditiru tim lain dalam perjalanan Brasil di Piala Dunia 1970.

Tim Samba memenangkan seluruh pertandingan mereka sejak babak kualifikasi hingga partai final. Rekor 100% Brasil merupakan yang pertama dan satu-satunya yang pernah tercipta di perhelatan Piala Dunia, lho.

Kegilaan Brasil enggak berhenti di situ. Jairzinho mengukir rekor unik sebagai satu-satunya pemain dalam sejarah yang selalu mencetak gol di setiap pertandingan putaran final Piala Dunia (total 7 gol).

“Game of the Century” di Azteca: Drama 5 Gol di Babak Tambahan

Jika Brasil adalah definisi keindahan, maka laga semifinal antara Italia vs Jerman Barat di Stadion Azteca adalah definisi murni dari drama dan pengorbanan fisik. Laga ini secara resmi dianugerahi plakat sebagai “Game of the Century” alias “Pertandingan Abad” Ini.

Awalnya, pertandingan dua tim juara ini berjalan normal. Skor imbang 1-1 bertahan hingga waktu normal berakhir. Namun, apa yang terjadi di babak perpanjangan waktu (2x 15 menit) benar-benar di luar nalar. Kedua tim saling berbalas gol layaknya petinju yang melepaskan pukulan pamungkas.

Jerman Barat membuka aksi berbalas gol lewat sang Bintang Gerd Mueller pada menit ke-94. Namun, Italia langsung merespons dan berbalik unggul 3-2 lewat gol Tarcisio Burgnich dan Luigi Riva pada menit 98 dan 104.

Gerd Mueller dan tim Panser menolak angkat bendera putih. Striker andalan Bayern Munich ini kembali membuat kedudukan seimbang (3-3) lewat golnya pada menit ke-110. Puncak drama duel terseru abad ini akhirnya ditutup oleh Gianni Rivera satu menit berselang. Penyerang AC Milan itu berhasil meruntuhkan kokohnya tembok Jerman dan membawa Azzurri lolos ke final dengan skor 4-3.

Selain aksi berbalas gol di waktu tambahan yang monumental, momen paling heroik dalam laga ini dipersembahkan oleh kapten Jerman Barat, Franz Beckenbauer.

Der Kaiser -julukan Beckenbauer- mengalami cedera dislokasi bahu (dislocated shoulder) akibat dilanggar keras. Karena jatah pergantian pemain Jerman sudah habis, Beckenbauer menolak keluar lapangan dan terus bermain selama sisa laga dengan lengan kanan yang diikat perban menempel erat ke dadanya.

Lahirnya Aturan Modern: Kartu Pelanggaran dan Pergantian Pemain

Piala Dunia 1970 juga menjadi pelopor diterapkannya sistem regulasi FIFA yang kita kenal hari ini demi menjaga kelancaran pertandingan dan keselamatan pemain:

1. Kartu Kuning dan Kartu Merah Terinspirasi dari warna lampu lalu lintas, sistem kartu ini diperkenalkan agar penonton dan pemain langsung paham sanksi wasit tanpa terkendala bahasa. Uniknya, meski sistem ini sudah berlaku, tidak ada satu pun kartu merah yang keluar sepanjang turnamen 1970 karena tingginya sportivitas.

2. Aturan Pergantian Pemain Untuk pertama kalinya, setiap tim diperbolehkan mengganti maksimal 2 pemain dalam sebuah pertandingan resmi. Anatoly Puzach dari Uni Soviet mencatatkan diri sebagai pemain pengganti pertama dalam sejarah Piala Dunia saat melawan Meksiko.

Penobatan Abadi sang Penguasa Jules Rimet

Di babak final, Brasil menghadapi Italia yang kelelahan usai bertempur habis-habisan melawan Jerman di laga terbaik abad ini. Di hadapan 107.000 penonton di Stadion Azteca, Italia tak berkutik meladeni permainan sepak bola tingkat “dewa” Brasil. Selecao menutup laga puncak dengan kemenangan telak 4-1.

Gol penutup yang dicetak oleh kapten Carlos Alberto Torres dianggap sebagai salah satu gol kerja sama tim terbaik sepanjang masa, di mana bola dialirkan dari kaki ke kaki lewat kerja sama 9 pemain berbeda sebelum dihantam tendangan keras Alberto ke pojok gawang.

Sesuai aturan aturan awal FIFA, negara yang berhasil memenangkan Piala Dunia sebanyak tiga kali berhak menyimpan trofi asli Jules Rimet secara permanen. Brasil memenangkan gelar ketiga mereka (setelah 1958 dan 1962), membuat trofi emas berbentuk dewi kemenangan itu resmi menetap di Rio de Janeiro.

Akhir Dongeng Indah Pele

Piala Dunia 1970 seakan menjadi penutup dongeng indah Pele yang sempat menggemparkan dunia sepak bola pada kemunculan perdananya di Piala Dunia 1958 saat usianya baru 17 tahun.

Pele pamit dari panggung dunia sebagai satu-satunya manusia yang mampu mengoleksi 3 cincin juara Piala Dunia -sebuah rekor yang belum tersentuh hingga detik ini.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.