Fokus Semarang | Harga emas dunia melayang ke level terendah dalam lebih dari dua bulan, menyentuh US$ 4.259,52 per ons troi pada perdagangan Selasa. Kenaikan tekanan terhadap logam mulia ini dipicu oleh aksi jual di pasar keuangan global dan meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve (Fed) masih berpeluang menaikkan suku bunga tahun ini.
Bob Haberkorn, Senior Market Strategist RJO Futures, mengatakan bahwa pasar saat ini berada dalam kondisi menghindari risiko (risk-off), yang memicu tekanan terhadap berbagai aset, termasuk emas. "Pelaku pasar terlihat cukup gelisah. Hampir seluruh pasar bergerak dalam mode risk-off dan kondisi itulah yang mendorong harga emas turun," ujarnya.
Perhatian investor kini tertuju pada sejumlah data inflasi penting AS yang akan dirilis pekan ini. Data Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) Mei dijadwalkan keluar pada Rabu, disusul data Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) pada Kamis. Kedua data tersebut dinilai krusial untuk mengukur langkah Fed selanjutnya terkait suku bunga.
Dalam risetnya, Commerzbank menyebutkan bahwa apabila inflasi AS kembali menunjukkan kenaikan di atas ekspektasi pasar, harga emas berpotensi mengalami pelemahan lebih lanjut dalam jangka pendek. Jika data inflasi Mei kembali memberikan kejutan ke atas, harga emas kemungkinan akan turun lebih dalam. Namun, kondisi itu juga dapat membuka peluang pemulihan harga pada paruh kedua tahun ini apabila Fed akhirnya tidak menaikkan suku bunga.
Harga minyak dunia juga melemah setelah Iran dan Israel menyatakan penghentian serangan menyusul seruan Presiden AS Donald Trump untuk meredakan konflik. Meski demikian, harga energi yang masih relatif tinggi tetap menjadi perhatian karena berpotensi menjaga tekanan inflasi dan mendorong suku bunga bertahan di level tinggi lebih lama.
Secara historis, emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Namun, kenaikan suku bunga cenderung mengurangi daya tarik logam mulia karena emas tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbunga.
Pada perdagangan logam mulia lainnya, harga perak spot anjlok 4,3% menjadi US$ 65,23 per ons troi. Sementara itu, platinum turun 2,1% ke US$ 1.717,30 per ons troi dan paladium melemah 1,3% menjadi US$ 1.220,92 per ons troi.
Sebagai kesimpulan, harga emas anjlok ke level terendah dalam lebih dari dua bulan, dipicu oleh tekanan terhadap logam mulia dan meningkatnya ekspektasi bahwa Fed masih berpeluang menaikkan suku bunga tahun ini. Perhatian investor kini tertuju pada sejumlah data inflasi penting AS yang akan dirilis pekan ini.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.


