Fokus Semarang | Provinsi Jawa Tengah memiliki potensi tinggi untuk pengembangan jamu tradisional, yang dapat menjadi salah satu produk ekonomi kreatif. Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maemoen, mengatakan bahwa jamu tradisional layak didorong menjadi gaya hidup yang berkembang di tengah masyarakat, termasuk di kalangan anak muda.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Taj Yasin juga mengingatkan agar masyarakat berhati-hati dalam konsumsi jamu tradisional, karena masih ada pelaku-pelaku usaha yang memasukkan bahan kimia obat ke dalam ramuan jamu. Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mendukung program dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) untuk memberikan pendampingan kepada UMKM produsen dan penjual jamu di pasaran.

BPOM juga menilai bahwa tumbuhan obat herbal atau jamu, bisa menembus pasar nasional bahkan pasar global. Oleh karena itu, program pengembangan jamu di Jawa Tengah harus mendapatkan dukungan yang cukup.

Prof. dr. Taruna Ikrar, Kepala BPOM, mengungkapkan bahwa melalui Program Idaman, pihaknya berupaya mempertahankan citra dan keperayaan masyarakat Indonesia terhadap jamu. Pasalnya, berdasarkan hasil pengawasan BPOM, masih menunjukkan adanya risiko peredaran obat bahan alam ilegal dalam kandungan jamu.

BPOM telah melakukan pemeriksaan terhadap 119 sarana di Jawa Tengah dan menemukan 10.267 jenis produk obat-bahan alam yang mengandung bahan kimia obat dengan nilai ekonomi mencapai Rp 500 juta. Oleh karena itu, BPOM akan melakukan penindakan secara tegas karena efek penuntutan.

Nilai ekonomi dari industri jamu tradisional di Indonesia mencapai Rp 350 Triliun per tahun. Oleh karena itu, citra jamu harus tetap terawat dan dipertahankan sebagai warisan budaya yang aman.

Jadi, Wagub Jateng ingin mendorong pengembangan jamu tradisional yang berkelanjutan dan aman untuk dikonsumsi oleh masyarakat.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.