Fokus Semarang | Seorang pengusaha roti asal Makassar, Sulawesi Selatan, telah mengaku kapok menjadi mitra dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) karena menghadapi berbagai persoalan selama menjalin kerja sama. Menurut pengakuannya, pihak dapur MBG kerap meminta penurunan harga produk yang disuplai, meski awalnya masih dapat diterima karena masih memperoleh keuntungan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Namun, setelah itu terus-menurut menawar dan semakin besar. Bahkan, penawaran harga yang diajukan kemudian dinilai tidak lagi masuk akal secara bisnis. Menurut pengusaha roti tersebut, harga yang diminta sudah tidak mampu menutupi biaya produksi yang harus dikeluarkan.

Selain itu, pengusaha roti tersebut juga mengaku heran dengan sejumlah praktik yang menurutnya terjadi dalam proses kerja sama dengan beberapa SPPG. Salah satu hal yang membuatnya kecewa adalah adanya permintaan agar harga pada nota pembelian dinaikkan atau di-mark up meskipun harga yang dibayarkan kepada pemasok sudah ditawar jauh lebih rendah.

Ia juga mengaku pernah diminta memberikan komisi yang disebut diperuntukkan bagi pihak tertentu di lingkungan SPPG. Nilai komisi tersebut, menurutnya, bervariasi tergantung jumlah pesanan yang diterima pemasok.

Pengakuan pengusaha roti tersebut kini menjadi sorotan karena berkaitan dengan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis yang selama ini digadang-gadang sebagai salah satu program strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak-anak sekolah.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak SPPG maupun yayasan yang disebut dalam pengakuan tersebut. Diperlukan klarifikasi dan penelusuran lebih lanjut dari pihak terkait guna memastikan kebenaran informasi yang disampaikan serta menjaga transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaan program MBG.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.