Fokus Semarang | Sungai Penuh, Kerinci – Kemeriahan tradisi adat Kenduri Sko kembali mewarnai kehidupan masyarakat Kota Sungai Penuh. Salah satu momen yang paling menyita perhatian terjadi saat masyarakat Luhah Dasira mengarak bambu raksasa sepanjang sekitar 40 meter yang menjadi simbol kebersamaan, gotong royong, dan pelestarian budaya leluhur.
Arak-arakan bambu panjang tersebut berlangsung meriah dengan iringan musik dan nyanyian khas daerah. Lagu Ala Yamule yang menggema sepanjang perjalanan menambah semangat warga yang bahu-membahu membawa bambu raksasa itu menuju lokasi acara adat. Suasana penuh kegembiraan terlihat dari antusiasme masyarakat yang memadati jalur arak-arakan.
Kenduri Sko sendiri merupakan tradisi adat masyarakat Kerinci yang diwariskan turun-temurun. Tradisi ini menjadi momentum penting untuk mensyukuri hasil panen, mempererat hubungan kekeluargaan, sekaligus mengukuhkan nilai-nilai adat yang masih dijaga hingga saat ini.
Bambu sepanjang 40 meter yang diarak oleh Luhah Dasira menjadi daya tarik tersendiri. Selain menunjukkan kekompakan masyarakat, kegiatan tersebut juga melambangkan kekuatan persatuan dalam menjaga adat dan budaya yang telah diwariskan para leluhur.
Warga dari berbagai usia turut ambil bagian dalam prosesi tersebut. Mulai dari tokoh adat, pemuda, hingga anak-anak terlihat ikut meramaikan acara. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa tradisi Kenduri Sko masih memiliki tempat istimewa di hati generasi muda.
Iringan Lagu Ala Yamule yang terus berkumandang menciptakan nuansa khas Kerinci yang kental. Banyak pengunjung dan wisatawan mengabadikan momen tersebut karena dinilai unik dan jarang ditemui di daerah lain.
Selain prosesi adat, Kenduri Sko juga menjadi ajang silaturahmi masyarakat. Berbagai pertunjukan seni budaya, kuliner tradisional, dan kegiatan adat lainnya turut memeriahkan rangkaian acara yang berlangsung selama beberapa hari.
Pelestarian tradisi seperti Kenduri Sko diharapkan dapat terus dilakukan agar warisan budaya masyarakat Kerinci dan Sungai Penuh tetap terjaga. Arak-arakan bambu sepanjang 40 meter yang dilakukan Luhah Dasira menjadi bukti bahwa semangat gotong royong dan kecintaan terhadap budaya lokal masih hidup dan berkembang di tengah modernisasi.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.


