Fokus Semarang | Jakarta: Qatar memasuki Piala Dunia 2026 dengan beban yang tidak dimiliki sebagian besar peserta lain. Bukan sekadar memburu kemenangan perdana di turnamen ini, tetapi juga menjawab keraguan banyak pihak mengenai kelayakan mereka berada di putaran final.
Sejauh ini, hanya Arab Saudi yang mampu langsung membuat kejutan saat menjalani debut Piala Dunia dengan lolos ke babak 16 besar pada edisi 1994 di Amerika Serikat. Qatar justru memiliki catatan yang jauh berbeda.
Pada Piala Dunia 2022, tim berjuluk The Maroons itu kalah dalam seluruh pertandingan fase grup. Mereka kebobolan tujuh gol dan hanya mampu mencetak satu gol, bahkan ketika tampil sebagai tuan rumah.
Qatar Datang dengan Tekanan Besar
Pertanyaan terbesar yang menghantui Qatar menjelang turnamen ini adalah apakah mereka benar-benar pantas lolos ke Piala Dunia 2026.
Keraguan tersebut muncul karena Qatar dan Arab Saudi berhasil mengamankan tiket melalui babak tiebreaker Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia yang digelar di kandang sendiri. Situasi itu memicu perdebatan karena banyak pihak menilai pertandingan seharusnya dimainkan di venue netral atau menggunakan sistem kandang dan tandang sesuai prinsip kompetisi FIFA.
Karena itulah, laga melawan Swiss di Levi’s Stadium, Santa Clara, California, pada Minggu (14/6) dini hari WIB menjadi panggung penting bagi Qatar untuk membuktikan diri.
Swiss Punya Modal Meyakinkan
Swiss merupakan unggulan terkuat di Grup B dan memiliki pengalaman panjang di panggung Piala Dunia.
Performa The Nati juga terus menunjukkan konsistensi. Dalam tiga edisi Piala Dunia terakhir, mereka selalu mampu menembus babak 16 besar.
Tim asuhan Murat Yakin datang dengan kepercayaan diri tinggi setelah menjuarai Grup B Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Eropa tanpa menelan kekalahan.
Dalam enam pertandingan terakhir, Swiss mencatat hasil yang cukup impresif. Mereka mengalahkan Swedia dan Yordania dengan skor identik 4-1, bermain imbang melawan Kosovo, Norwegia, dan Australia, serta hanya kalah tipis 3-4 dari Jerman.
Memori Indah Qatar atas Swiss
Meski lebih diunggulkan, Swiss tidak boleh meremehkan Qatar.
Murat Yakin tentu tidak akan melupakan pertemuan kedua tim pada 14 November 2018 di Lugano. Saat itu Qatar secara mengejutkan berhasil mengalahkan Swiss dengan skor 1-0 berkat gol Akram Afif.
Menariknya, sembilan pemain Qatar yang tampil dalam kemenangan tersebut masih berada dalam skuad saat ini. Sebagian besar diperkirakan kembali menjadi starter ketika menghadapi Swiss.
Di kubu lawan, tujuh pemain yang merasakan kekalahan itu juga masih menghuni skuad Swiss, termasuk kapten Granit Xhaka dan gelandang andalan Remo Freuler.
Laga ini pun menjadi kesempatan bagi Swiss untuk membalas kekalahan yang masih membekas tersebut.
Duet Afif dan Almoez Ali Hadapi Tembok Swiss
Qatar masih mengandalkan kombinasi Akram Afif dan Almoez Ali sebagai senjata utama di lini depan.
Almoez Ali merupakan pencetak gol terbanyak sepanjang Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia dengan koleksi 12 gol. Sementara Afif menjadi kreator utama serangan Qatar setelah mencatatkan 11 assist dalam 16 pertandingan terakhir.
Pelatih Julen Lopetegui diperkirakan tetap menggunakan formasi 4-3-3 dengan mengandalkan trisula Afif, Edmilson Junior, dan Almoez Ali.
Namun, mereka akan menghadapi salah satu pertahanan paling solid di Eropa yang dipimpin bek Manchester City, Manuel Akanji.
Swiss juga memiliki ancaman besar di lini depan melalui Breel Embolo. Striker Rennes tersebut tampil tajam sepanjang kualifikasi dan menjadi salah satu pemain yang konsisten mencetak gol dalam pertandingan internasional Swiss.
Didukung duet Granit Xhaka dan Remo Freuler di lini tengah, Swiss diprediksi lebih dominan dalam penguasaan bola maupun penciptaan peluang.
Pengalaman Piala Dunia Jadi Pembeda
Qatar memang memiliki sejumlah pemain berpengalaman dan sempat membuktikan diri mampu mengalahkan Swiss pada 2018.
Namun, jika melihat kualitas skuad, kedalaman tim, konsistensi performa, dan pengalaman di level tertinggi, Swiss tetap berada satu tingkat di atas lawannya.
The Nati juga memiliki motivasi besar untuk mempertahankan rekor tidak pernah kalah dalam laga pembuka Piala Dunia sejak edisi 1966.
Qatar diperkirakan mampu memberikan perlawanan, tetapi Swiss memiliki cukup kualitas untuk mengamankan tiga poin pertama di Grup B.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.


