Fokus Semarang | Di ajang Computex 2026, Schneider Electric mengadakan forum penutup yang membahas tentang menghadapi era gigawatt dengan teknologi data center AI. Senior Vice President dan Chief Technology Officer (CTO) Schneider Electric, Jim Simonelli, mengatakan bahwa paradigma lama yang menganggap pusat data berkapasitas 1 megawatt sebagai fasilitas yang besar di era 90-an sudah tidak lagi berlaku di tengah tuntutan beban kerja AI modern.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Untuk menghadapi era gigawatt ini secara berkelanjutan, efisien, dan efektif, Simonelli memaparkan tiga tema dasar arsitektur pusat data yang mencakup aspek kepadatan bangunan, pengelolaan suhu panas, dan interaksi yang stabil dengan jaringan listrik (grid).

Tema pertama yang diangkat oleh Simonelli adalah pentingnya membangun dengan tebal atau padat (build thick). Konsolidasi perangkat komputer dalam ruang yang lebih rapat mampu memberikan performa belanja modal (CapEx) per megawatt yang jauh lebih baik. Langkah ini menjadi krusial karena semakin padat komputer dikumpulkan, maka proses produksi token yang merupakan realitas utama aktivitas data center hari ini akan menjadi jauh lebih efektif.

Tema kedua berfokus pada penolakan panas (e-rejection) yang saat ini diakui sebagai elemen yang paling tidak efisien dalam pengoperasian pusat data. Simonelli menyarankan industri untuk berani menjalankan sistem dengan suhu yang lebih panas. Target pergerakan teknologi saat ini berada pada kisaran suhu 40 hingga 45 derajat Celsius.

Pengoperasian pada suhu tinggi ini sangat berharga karena menghasilkan suhu kembali yang memungkinkan penolakan panas dilakukan tanpa memerlukan sistem pendingin mekanis yang masif di berbagai belahan planet, sehingga setiap watt daya yang masuk ke fasilitas dapat dialokasikan sepenuhnya untuk komputasi server dan menghasilkan pendapatan.

Tema ketiga berkaitan erat dengan interaksi dan pemanfaatan jaringan listrik (grid interaction). Pemanfaatan unit UPS atau konversi AC-DC yang dikaitkan dengan penyimpanan (storage) menjadi elemen vital untuk memastikan bahwa variasi daya yang naik turun dengan cepat tidak mengganggu stabilitas jaringan.

Untuk mengurai kerumitan rekayasa di industri ini menjadi solusi praktis yang lebih jelas, Schneider Electric menerbitkan White Paper 213. Fakta bahwa desain pusat data arus searah (DC) akan selalu bervariasi dan memiliki prinsip desain berbeda di berbagai sektor, baik itu pada penyedia skala besar (hyperscaler), ritel, maupun grosir (wholesale) sesuai dengan jenis masalah yang ingin mereka selesaikan.

Schneider Electric memproyeksikan bahwa implementasi blok daya DC terpusat berkapasitas 2 hingga 5 megawatt menggunakan teknologi seperti DC-UPS, konverter modular pada transformator, atau Solid State Circuit Breaker (SSD) akan mulai digelar secara masif pada tahun 2026 hingga 2027.

Ke depan, ukuran blok pusat data terpusat ini diperkirakan akan terus berkembang menuju skala yang jauh lebih raksasa hingga mencapai kapasitas 12 megawatt.

Dalam kesimpulan, Schneider Electric menghadapi era gigawatt dengan teknologi data center AI yang mencakup tiga tema dasar arsitektur pusat data, yaitu kepadatan bangunan, pengelolaan suhu panas, dan interaksi yang stabil dengan jaringan listrik. Mereka juga memproyeksikan bahwa implementasi blok daya DC terpusat akan menjadi solusi yang efektif di masa depan.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.