Fokus Semarang | Menguak Sejarah Formasi W-M: Taktik Kuno yang Jadi Kiblat Sepak Bola Modern

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Formasi W-M adalah salah satu taktik sepak bola paling legendaris dalam sejarah. Diciptakan oleh Herbert Chapman pada tahun 1920-an, taktik ini tidak hanya mengubah cara bermain di lapangan, tetapi juga menjadi fondasi lahirnya posisi-posisi pemain modern.

Sejarah formasi W-M bermula pada pertengahan tahun 1920-an di Inggris. Herbert Chapman, manajer legendaris Arsenal, bersama kapten timnya, Charlie Buchan, menciptakan taktik ini untuk mengatasi perubahan aturan offside oleh FIFA pada tahun 1925.

Sebelum tahun tersebut, seorang pemain penyerang baru dinyatakan on-side jika ada tiga pemain lawan (termasuk kiper) di depannya. Ketika FIFA mengubah aturan tersebut menjadi minimal dua pemain, lini pertahanan tim-tim di seluruh dunia langsung kelimpungan. Hujan gol terjadi di mana-mana karena formasi dominan saat itu, yaitu 2-3-5, menjadi terlalu rapuh.

Chapman memutar otak. Ia sadar sepak bola butuh keseimbangan baru antara bertahan dan menyerang. Dari sanalah rumus taktis 3-2-2-3 atau yang kita kenal sebagai Formasi W-M lahir.

Formasi W-M memiliki dua pola utama: pola huruf M (lini belakang ke tengah) dan pola huruf W (lini tengah ke depan). Pola huruf M membentuk huruf M yang solid untuk meredam serangan lawan, sedangkan pola huruf W membentuk huruf W yang kreatif untuk menyerang.

Pertemuan antara dua gelandang bertahan (di pola M) dan dua gelandang serang (di pola W) membentuk sebuah kotak di lini tengah (box midfield). Struktur inilah yang membuat tim pengguna W-M bisa mendominasi penguasaan bola.

Formasi W-M menjadi standar emas sepak bola dunia selama hampir tiga dekade (1930-an hingga 1950-an). Namun, setiap taktik pasti menemui penawarnya. Piala Dunia 1958 di Swedia menjadi kuburan massal bagi formasi W-M.

Timnas Brasil membawa revolusi taktik baru: formasi 4-2-4. Gaya main Joga Bonito Brasil yang sangat dinamis berhasil mengeksploitasi kelemahan W-M. Dengan menempatkan 4 penyerang, Brasil otomatis membuat 3 bek dalam formasi WM kalah jumlah (overload).

Jika kamu berpikir formasi W-M sudah mati dan terkubur di buku sejarah, kamu keliru. Cetak biru taktik Herbert Chapman ini justru mengalami renaissance (kelahiran kembali) di tangan pelatih-pelatih jenius modern.

Secara tidak sadar, struktur yang dimainkan Manchester City tersebut adalah modifikasi modern dari formasi 3-2-2-3 alias formasi W-M! Prinsip box midfield (lini tengah berbentuk kotak) dan penciptaan ruang di area sayap yang diciptakan Chapman 100 tahun lalu terbukti masih menjadi senjata paling mematikan untuk membongkar pertahanan rapat di era sepak bola modern.

Formasi W-M bukan sekadar susunan angka di atas papan taktik. Ia adalah bukti bahwa sepak bola adalah permainan evolusi yang dinamis. Dari perubahan aturan offside yang sederhana, lahir sebuah mahakarya taktis yang tidak hanya menyelamatkan pertahanan sepak bola pada zamannya, tetapi juga tetap menjadi inspirasi para pelatih top dunia satu abad kemudian.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.