Fokus Semarang | Suasana haru tidak terbantahkan terjadi di Desa Kepuk, Kecamatan Bangsri, Kabupaten Jepara, ketika Sri Titik Azizah, Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal daerah itu, akhirnya kembali ke tanah air setelah 17 tahun hilang kontak di Timur Tengah.
Titik berangkat ke luar negeri pada tahun 2009 dan selama bekerja di negara tujuan pertamanya, ia kerap mengalami kekerasan verbal dari majikan. Tidak kuat menghadapi perlakuan tersebut, ia kabur dan kemudian bekerja di Yordania sejak 2011.
Di Yordania, Titik masih mengalami perlakuan buruk hingga tahun 2025, termasuk dikurung saat mencoba melarikan diri. “Saya tidak punya handphone karena majikan tidak suka. Pernah punya, tetapi dihancurkan. Akhirnya ada kesempatan kabur dan saya langsung pergi ke KBRI Yordania,” ungkap Titik.
Adiknya, Chandra, menjelaskan bahwa sejak 2025 Titik berada di bawah perlindungan KBRI Yordania. Saat itu ia sempat mengalami gangguan ingatan hingga tidak mampu berbahasa Indonesia dengan baik.
Identitas keluarga akhirnya terlacak setelah Titik terhubung dengan anak dan menantunya melalui media sosial TikTok. Pemerintah Desa Kepuk kemudian meneruskan laporan ke Pemkab Jepara yang berkoordinasi dengan KBRI Yordania untuk memfasilitasi proses pemulangan.
Upaya tersebut berhasil, dan pada 5 Juni 2026 Titik kembali ke kampung halamannya dengan selamat. Pasca kepulangan, sejumlah pihak memberikan bantuan dan pendampingan, di antaranya Camat Bangsri Debby Nifandrian, Ketua Baznas Jepara M. Nasrullah Huda, Kepala Bidang Rehabilitasi Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinsospermasdes Jepara Iman Bagus Sesulih, serta PMI Kabupaten Jepara.
Peristiwa ini membuktikan bahwa dengan kerja sama dan dukungan yang kuat, kita dapat membantu para PMI yang mengalami kesulitan di luar negeri. Semoga Titik dapat menemukan kembali kehidupannya di tanah air dengan bahagia.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.


