Fokus Semarang | Jakarta: Penyakit jantung masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Namun, di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat tentang kesehatan, masih banyak mitos yang beredar seputar serangan jantung, termasuk anggapan bahwa “angin duduk” hanyalah masuk angin biasa.
Padahal, kondisi ini bisa menjadi tanda bahaya yang mengancam nyawa jika tidak segera ditangani. Angin duduk atau angina pectoris merupakan gejala, yang muncul akibat berkurangnya aliran darah ke otot jantung.
Kondisi ini berbeda dengan masuk angin biasa, yang sering dikaitkan dengan kembung atau terlalu banyak makan.
Angin duduk bukan masuk angin biasa
Istilah angina berasal dari kata yang berarti menyempit atau tercekik. Pada dunia medis, angina pectoris merujuk pada nyeri dada, yang terjadi akibat kurangnya pasokan oksigen ke otot jantung.
"Angina pectoris itu adalah nyeri dada seperti ketekan beban berat. Orang yang mengalaminya biasanya merasa tidak nyaman, sesak napas, berkeringat banyak, dan bila tidak segera diatasi bisa mengancam jiwa," jelas dr. Febtusia Puspitasari, Sp.JP(K), FIHA, FAsCC, FSCAI (PERKI) dalam acara Daewoong Indonesia Heart Talk di WeWork Noble House Jakarta, Selasa (09/06/25).
Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak sama dengan masuk angin, yang sering dianggap muncul akibat kedinginan, terlalu kenyang, atau makan terburu-buru. Angin duduk merupakan bagian dari penyakit jantung koroner yang membutuhkan perhatian medis segera.
dr. Febtusia menjelaskan bahwa jantung hanya berukuran sekitar satu kepalan tangan, dan berfungsi sebagai pusat sirkulasi darah tubuh. Organ ini bekerja tanpa henti memompa darah, yang membawa oksigen dan nutrisi ke seluruh tubuh.
Jantung memiliki empat ruang dan didukung jaringan pembuluh darah, yang bertugas mengalirkan oksigen serta zat gizi. Agar dapat bekerja optimal, otot jantung juga membutuhkan pasokan darah yang cukup melalui pembuluh darah koroner yang berada di permukaannya.
Penyumbatan pembuluh darah jadi pemicu utama
Serangan jantung terjadi ketika pembuluh darah koroner mengalami penyumbatan, sehingga pasokan oksigen ke otot jantung terganggu. Akibatnya, otot jantung mengalami kekurangan nutrisi dan memunculkan rasa nyeri.
"Kalau pembuluh darah menyumbat, otot jantung tidak mendapatkan pasokan oksigen yang cukup. Otot itu seperti berteriak, karena kekurangan makanan dan oksigen. Itulah yang dirasakan sebagai angina," kata dr. Febtusia.
Jika kondisi tersebut terus berlanjut tanpa penanganan, jaringan otot jantung dapat mengalami kerusakan permanen bahkan kematian.
“Semakin cepat sumbatan dibuka, semakin banyak otot jantung yang bisa diselamatkan,” tambahnya.
Angin duduk bukanlah masalah kecil dan harus diambil serius. Jika Anda mengalami gejala seperti nyeri dada, sesak napas, atau berkeringat banyak, segera konsultasikan dengan dokter.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.


